ISCHEMIC HEART DISEASE
(IHD)/PENYAKIT JANTUNG KORONER
DISUSUN OLEH :
M.KHOIRUL
MUKMIN
PSIK REG A1 / 4
11142013003
DOSEN PEMBIMBING : ALI HAROKAN,S.Kep.Ners
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG TAHUN
2013
LAPORAN PENDAHULUAN
ISCHEMIC HEART DISEASE (IHD)/PENYAKIT JANTUNG KORONER
A. Pengertian
Ischemic heart disease (IHD)/Penyakit Jantung Koroner
(PJK) adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh penyempitan atau penghambatan
pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Karena sumbatan ini,
terjadi ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan oksigen otot jantung
yang dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah yang terkena sehingga fungsinya
terganggu.
B. Etiologi
Penyakit jantung
coroner dapat disebabkan oleh beberapa hal :
1.
Penyempitan
(stenosis) dan penciutan (spasme) arteri koronaria, tetapi penyempitan bertahap
akan memungkinkan berkembangnya kolateral yang cukup sebagai pengganti.
2.
Aterosklerosis,
menyebabkan sekitar 98% kasus PJK.
3.
Penyempitan
arteri koronaria pada sifilis, aortitis takayasu, berbagai jenis arteritis yang
mengenai arteri coronaria, dll.
Faktor Resiko
Faktor resiko ada
yang dapat dimodifikasi ada yang tidak dapat dimodifikasi
1.
Faktor
risiko yang dapat dimodifikasi :
a. Merokok
Merokok dapat
merangsang proses aterosklerosis karena efek langsung pada dinding arteri,
karbon monoksida menyebabkan hipoksia arteri, nikotin menyebabkan mobilisasi
katekolamin yang menimbulkan reaksitrombosit, glikoprotein tembakau dapat
menimbulkan reaksi hipersensitifitas dinding arteri.
b. Hiperlipoproteinemia
DM, obesitas dan
hiperlipoproteinemia behubungan dengan pengendapan lemak.
c. Hiperkolesterolemia
Kolesterol, lemak dan
substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri,
sehingga lumen dari pembuluh darah tersebut menyempit dan proses ini disebut
aterosklerosis.
d. Hipertensi
Peningkatan tekanan
darah merupakan beban yang berat untuk jantung, sehingga menyebabkan hipertropi
ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri (faktormiokard). Serta tekanan
darah yang tinggi menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah
arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis koroner (factor
koroner).
e. Diabetes melitus
Intoleransi terhadap
glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh
darah.
f. Obesitas dan sindrom metabolik
Obesitas adalah
kelebihan jumlah lemak tubuh > 19 % pada laki laki dan > 21 % pada
perempuan. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan LDL
kolesterol. Resiko PJK akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20% dari BB
ideal.
- Inaktifitas fisik
- Perubahan keadaan sosial dan stress
Penelitian Supargo
dkk (1981-1985) di FKUI menunjukkan orang yang stress satu setengah kali lebih
besar mendapatkan resiko PJK. Stress disamping dapat menaikkan tekanan darah
juga dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.
g.
Kelenjar
tiroid yang kurang aktif.
Hipotiroid /
hiposekresi terjadi bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan sekret pada waktu
bayi, sehingga menyebabkan kretinisme atau terhambatnya pertumbuhan tubuh.
Pada orang dewasa
mengakibatkan mixodema, proses metabolik mundur dan terdapat
kecenderungan untuk bertambah berat dan gerakan lamban.
1.
Obat-obatan
tertentu yang dapat mengganggu metabolisme lemak seperti estrogen, pil kb,
kortikosteroid, diuretik tiazid (pada keadaan tertentu)
2.
Faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi :
a. Usia
Resiko PJK meningkat
dengan bertambahnya usia; penyakit yang serius jarang terjadi sebelum usia 40
tahun. Tetapi hubungan antara usia dan timbulnya penyakit mungkin hanya
mencerminkan lebih panjangnya lama paparan terhadap faktor-faktor pemicu.
b.Jenis kelamin laki-laki
Wanita agaknya
relative kebal terhadap penyakit ini sampai menopause, kemudian menjadi sama
rentannya seperti pria; diduga karena adanya efek perlindungan esterogen.
c. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang
positif terhadap PJK (saudara atau orang tua yang menderita penyakit ini
sebelum usia 50 tahun) meningkatkan timbulnya aterosklerosis prematur.
Pentingnya pengaruh genetic dan lingkungan masih belum diketahui. Tetapi,
riwayat keluarga dapat juga mencerminkan komponen lingkungan yang kuat, seperti
misalnya gaya hidup yang menimbulkan stress atau obesitas.
d.
Etnis
Orang Amerika-Afrika
lebih rentan terhadap PJK daripada orang kulit putih.
C.
Patofisiologi
1.
Perubahan awal
terjadinya
penimbunan plak-plak aterosklerosis
2. Perubahan intermediate
Plak semakin besar dan terjadi obstruksi dari lumen
arteri koroner epikardium. Hal ini menyebabkan peningkatan sirkulasi
darah sebanyak 2-3 kali lipat akibat olahraga tidak dapat dipenuhi.
Keadaan ini disebut Iskemia dan manifestasinya dapat berupa Angina atau
nyeri pada dada akibat kerja jantung yang meningkat
3. Perubahan akhir
Terjadi ruptur pada ‘cap’
atau bagian superficial dari plak sehingga akan terjadi suatu situasi yang
tidak stabil dan bebagai macam manifestasi klinik seperti Angina at rest
atau Infark Miokard. Dengan terpaparnya isi plak dengan darah, akan
memicu serangkaian proses platetel agregasi yang pada akhirnya akan menambah
obstruksi dari lumen pembuluh darah tersebut
4. Iskemia miokard
Peristiwa ini akan menimbulkan serangkaian perubahan pada
fungsi diastolik, lalu kemudian pada fungsi sistolik. Menyusul dengan
perubahan impuls listrik (gelombang ST-T) dan akhirnya timbullah keadaan Infark
Miokard.
o Angina stabil : Bila obstruksi
pada arteri koroner ≥ 75%
o Unstable angina : Bila terjadi ruptur dari
plak ateromatosa
·
Angina Prinzmetal : Bila terjadi vasospasme
dari arteri koroner utama
D.
Manifestasi klinik
Angina pectoris
merupakan manifestasi klinik yang sering dijumpai. Manifestasi klinik yang lain
adalah Angina stabil, Angina Prinzmetal, Angina tak Stabil, Infark Miokard,
Silent Myocardial Ischemic (SMI), Gagal jantung, Disritmia cordis.
E. Faktor Resiko
1. Alkohol
Konsumsi yang berlebih dapat
menimbulkan kerusakan hati, meningkatkan tekanan darah, meningkatkan insiden
kanker mulut dan kanker esophagus, dan lain sebagainya.
2. Diabetes Mellitus
Diabetes
Mellitus sudah sejak lama dikenal sebagai faktor resiko independen yang dapat
menyebabkan berbagai macam kelainan kardiovaskular. Sebuah teori mengatakan
bahwa salah satu dari tipe Diabetes dihubungkan dengan kelainan intrinsik
primer dimana sel-sel akan berumur pendek sehingga terjadi peningkatan
pergantian sel. Selain itu disfungsi trombosit pada
diabetes juga menyumbang peran yang berarti.
3. Obat-obatan
Beberapa obat dapat
menyebabkan hipertensi, seperti golongan Mineralokortikoid, NSAIDs, Amfetamin,
Antidepresan trisiklik, dan lain lain.
4. Exercise / Latihan fisik
Olahraga teratur dapat menurunkan tekanan darah sebanyak
5-10 mmHg. Olahraga
juga dapat meningkatkan cardiac output, dengan cara :
o Meningkatkan kontraktilitas dan
otot-otot miokardium sehingga dapat dicapai stroke volume yang maksimal.
o Meningkatkan jumlah kapiler-kapiler di
miokard.
o Menurunkan denyut jantung saat
istirahat.
o Menurunkan resistensi perifer saat istirahat.
5. Hiperlipoproteinemia
Semakin banyak
lipoprotein yang beredar dalam darah, akan semakin besar kemungkinan bagi
mereka untuk memasuki dinding arteri. Bila dalam jumlah besar maka akan
melampaui kemampuan sel otot polos untuk memetabolismenya sehingga lemak akan
terakumulasi pada dinding arteri.
6. Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor resiko yang
paling penting dalam penyakit kardiovaskular. Hipertensi mempercepat
terjadinya aterosklerosis, yaitu dengan cara menyebabkan perlukaan secara
mekanis pada sel endotel di tempat yang mengalami tekanan tinggi.
7. Obesitas
Obesitas
dapat menyebabkan aterosklerosis, hipertensi, hiperlipidemia dan Diabetes tipe
2, dan berbagai kondisi lainnya.
8. Asupan garam yang berlebihan
Pembatasan asupan garam dapat
menurunkan tekanan darah 1-10 mmHg. Asupan yang berlebih dapat
menyebabkan terjadinya retensi natrium dan air, sehingga menambah beban
jantung.
9. Merokok
Efek rokok pada
sistem kardiovaskular :
o
Nikotin mempunyai efek langsung terhadap arteri koronaria
dan platelet darah.
o
Inhalasi karbon monoksida mengurangi kapasitas eritrosit
membawa oksigen. Selain itu juga meningkatkan kebutuhan oksigen miokardium,
meningkatkan platelet adhesiveness dan katekolamin plasma.
F. Pemeriksaan penunjang
1. EKG (Elektrokardiografi)
Adanya gelombang patologik disertai
peninggian S-T segmen yang konveks dan diikuti gelombang T yang negative dan
simetrik. Kelainan Q menjadi lebar (lebih dari 0,04 sec) dan dalam (Q/R lebih
dari ¼).
2. Laboratorium
·
Creatin fosfakinase
(CPK). Iso enzim CKMB meningkat
Hal ini terjadi karena kerusakan otot,
maka enzim intra sel dikeluarkan ke dalam aliran darah. Normal 0-1 mU/mL.
·
SGOT (Serum Gluramic
Oxalotransaminase Test)
Nomal
kurang dari 12 mU/mL. kadar enzim ini naik pada 12-24 jam setelah serangan.
·
LDH (Lactic
De-Hydrogenase)
Normal kurang dari 195 mU/mL. kadar
enzim biasanya baru mulai naik setelah 48 jam.
Pemeriksaan lain : Ditemukan peninggian
LED, Lekositosis ringan, dan kadang Hiperglikemi ringan.
4.
Kateterisasi : Angiografi koroner untuk
mengetahui derajat obstruksi.
5. Radiology
: Pembesaran dari jantung.
G. Komplikasi
1. Gagal Ginjal Kongestif
Merupakan kongestif sirkulatif akibat
disfungsi miokardium. Infark miokardium mengganggu fungsi miokardium karena
menyebabkan pengurangan kontraktilitas, gerakan dinding yang abnormal, dan
menambah daya kembang ruang jantung. Dengan berkuragnya kemampuan ventrikel
kiri untuk mengosongkan ruang, volume kuncup berkurang, sehingga tekanan
ventrikel kiri meningkat. Akibatnya tekanan vena pulmonalis meningkat dan dapat
menyebabkan transudasi, hingga udem paru sampai terjadi gagal jantung kiri. Gagal jantung kiri dapat berkembang
menjadi gagal jantung kanan.
2. Syok Kardiogenik
Diakibatkan karena disfungsi nyata
ventrikel kiri sesudah mengalami infark yang massif. Timbul lingkaran setan hemodinamik
progresif hebat yang irreversible, yaitu:
·
Penurunan perfusi
perifer
·
Penurunan perfusi
koroner
·
Peningkatan kongesti
paru
3. Disfungsi otot Papilaris
Disfungsi
iskemik atau rupture nekrosis otot papilaris akan mengganggu fungsi katub
mitralis, memungkinkan eversi daun katub ke dalam atrium selama sistolik.
4. Defek Septum Ventrikel
Nekrosis septum interventrikularis
dapat menyebabkan rupture dinding septum sehingga terjadi defek septum
ventrikel. Akibatnya curah jantung sangat berkurang disertai peningkatan kerja
ventrikel kanan dan kongesti.
5. Rupture jantung
Rupture dinding ventrikel jantung yang bebas dapat terjadi
pada awal perjalanan infark selama fase pembuangan jaringan nekrotik sebelum
pembentukan parut.
6. Tromboembolisme
Nekrosis endotel ventrikel akan membuat permukaan endotel
menjadi kasar yang merupakan factor predisposisi pembentukan thrombus. Pecahan
thrombus terlepas dan dapat terjadi embolisme sistemik.
7. Perikarditis
Infark transmural dapat membuat lapisan epikardium yang
langsung kontak dengan pericardium menjadi besar sehingga merangsang permukaan
pericardium dan menimbulkan raeksi peradangan. Kadang terjadi efusi
pericardial.
8. Sindrom Dressler
Sindrom pasca infark miokardium ini merupakan respon
peradangan jinak yang disertai nyeri pada pleura pericardial. Diperkirakan
sindrom ini merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap miokardium yang
mengalami nekrosis.
9. Aritmia
Aritmia timbul akibat perubahan
elektrofisiologis sel-sel miokardium. Perubahan ini bermanifestasi sebagai
perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik aktifitas listrik sel.
H. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1.
Data subyektif :
1. Lokasi nyeri (menyebar kebagian yang
mana)
2. Dada terasa berat, kencang, seperti
diperas.
3. Awitan dan lamanya nyeri.
4. Faktor-faktor pencetus nyeri :
kegiatan, panas, dingin, stress, makanan (banyak lemak).
5. Faktor-faktor yang dapat mengurangi
nyeri : istirahat, nitro-gliserin
6. Data obyektif :
Apabila nyeri angina sedang dialami
pasien, maka fokus perawat adalah tingkah laku pasien seperti, cemas, ketakutan
dan memegang dada, disamping itu, perawat juga perlu melihat melihat
tanda-tanda vital dan perubahan irama jantung.
a) Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan
untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat
atau pada saat beraktivitas).
b) Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung
koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus. Tekanan darah mungkin
normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill
time, disritmia. Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin
mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan
kontraktilitasnya. Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau
muskulus papilaris yang tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau
menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). Irama jnatung mungkin ireguler
atau juga normal. Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles
mungkin juga timbul dengan gagal jantung. Warna kulit mungkin pucat baik di
bibir dan di kuku.
c) Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga
normal.
d) Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan
turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.
e) Neuro sensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes
mentation.
f) Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba
yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin. Lokasi nyeri
dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang
dan wajah. Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat
yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah
yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata,
perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta
tingkat kesadaran.
a) Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas,
batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada
pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis,
suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga
merah muda/ pink tinged.
b) Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi
dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.
c) Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang
menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.
d) Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang
merupakan tanda dri iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan
tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. Enzym dan
isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak
pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
e) Elektrolit
Ketidakseimbangan yang memungkinkan
terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo
atau hiperkalemia.
f) Pemeriksaan penunjang
- Whole blood cell
Leukositosis mungkin timbul pada
keesokan hari setelah serangan.
g) Analisa gas darah
Menunjukan terjadinya hipoksia atau
proses penyakit paru yang kronis ata akut.
h) Kolesterol atau trigliserid
Mungkin mengalami peningkatan yang
mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
i)
Chest X ray
Mungkin normal atau adanya
cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikiler.
j)
Echocardiogram
Mungkin harus di lakukan guna
menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
k) Exercise
stress test
Menunjukan kemampuan jantung
beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.
B. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang
nekrotik dan iskemi pada miokard.
3. Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
4. Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
5. Resiko terjadinya ketidakseimbangan
cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan
retensi natrium, penurunan plasma protein.
C. Intervensi
1. Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan: tidak terjadi penurunan cardiac
output selama di lakukan tindakan keperawatan.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Lakukan pengukuran tekanan darah
(bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika
memungkinkan).
|
Takikardi dapat terjadi karena nyeri,
cemas, hipoksemia dan menurunnya curah jantung. Perubahan juga terjadi pada
TD(hipo/hiper) karena respon jantung.
|
|
Catat warna kulit dan kaji kualitas
nadi
|
Sirkulasi perifer turun jika curah
jantung turun. Membuat kulit pucat atau warna abu-abu dan menurunnya kekuatan
nadi
|
|
Auskultasi suara nafas dan Catat
perkembangan dari adanya S3 dan S4.
|
S3,S4 dan creackles terjadi karena
dekompensasi jantung atau beberapa obat(penyekat beta).
|
|
Dampingi pasien pada saat melakukan
aktivitas.
|
Penghematan energy membantu
menurunkan beban jantung
|
|
Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial
ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.
|
Untuk hasil penunjang dan pengobatan
lebih lanjut
|
2. Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan: selama dilakukan tindakan
keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Kaji adanya perubahan kesadaran
|
Untuk mengevaluasi kondisi pasien
|
|
Inspeksi adanya pucat, cyanosis,
kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
|
Untuk mengetahui kondisi tugor pasien
|
|
Kaji adanya tanda Homans (pain in
calf on dorsoflextion), erythema, edema.
|
Untuk mendeteksi adanya komplikasi
|
|
Kaji respirasi (irama, kedalam dan
usaha pernafasan).
|
Untuk mengevaluasi irama nafas pasien
|
|
Kaji fungsi gastrointestinal (bising
usus, abdominal distensi, constipasi).
|
Untuk mendeteksi terjadinya
konstipasi
|
|
Monitor intake dan out put.
|
Untuk mengetahui balance cairan dalam
tubuh
|
|
Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG,
BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.
|
Untuk mendeteksi adanya kerusakan di
gnjal
|
3.
Resiko
terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi
organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi
kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Kaji adanya jugular vein distension,
peningkatan terjadinya edema.
|
Untuk mengidentifikasi terjadinya
jugular vein distension
|
|
Ukur intake dan output (balance
cairan).
|
Untuk mengetahui balance cairan di
dalam tubuh
|
|
Kaji berat badan setiap hari.
|
Untuk mengetahui pasien kurang gizi
atau tidak
|
|
Sajikan makanan dengan diet rendah
garam
|
Agar pasien tidak mengalami
hipertensi
|
|
Kolaborasi dalam pemberian deuritika.
|
Agar cairan berlebih dalam tubuh
dapat keluar dr tubuh
|
DAFTAR PUSTAKA
Ø Carpenito, Linda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta:
EGC
Ø Pusat
Pendidikan Tenaga Kesehatan, 1993, Proses
Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Krdiovaskuler,
Jakarta: departemen Kesehatan.
Ø Price, Sylvia Anderson. 1994. Patofisiologi:
konsep klinis proses-proses penyakit edsi 4. Jakarta: EGC
Ø http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/jantung-koroner.htm


terimakasih banyak, sangat membantu sekali..
BalasHapushttp://acemaxsshop.com/obat-herbal-jantung-koroner/