Powered By Blogger

Minggu, 07 April 2013

Askep Parkinson


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS PARKINSON


Description: 49144_100000072527669_4188_n


DISUSUN OLEH KELOMPOK 8 :
ü  M.KHOIRUL MUKMIN
ü  DWI ARISKA PUSPITA SARI
ü  RULI SARTIKA
ü  MARISA APRILIA

DOSEN PEMBIMBING : Ns.KARTIKA SARI,S.Kep
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG TAHUN
2013


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum,Wr.Wb.
Alhamdullilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman. Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati indahnya keimanan dan Islam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas makalah Asuhan Keperwatan Pada Pasien Dengan Kasus Parkinson ini, yang diberikan kepada kami sebagai tugas pembelajaran mata kuliah Sistem Neurobehaviour II.
Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Palembang,    Januari 2013


Penulis,










DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................       i
DAFTAR ISI .............................................................................................      ii
BAB I – PENDAHULUAN .....................................................................      1
1.1 Latar Belakang ............................................................................      1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................      2
1.3 Tujuan...........................................................................................      2
BAB II – TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................      3
2.1 Pengertian Penyakit Parkinson.....................................................      3
2.2 Anatomi Fisiologi.........................................................................      4
2.3 Etiologi ........................................................................................      9
2.4 Manifestasi Klinis ........................................................................      10
2.5 Patofisiologi .................................................................................      10
2.6 Pemeriksaandiagnostik ................................................................      11
2.7 Komplikasi ...................................................................................      11
2.8 Penatalaksanaan Medis ................................................................      11
2.9 Asuhan Keperawatan ..................................................................      12
BAB III – PENUTUP ...............................................................................     26
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN
1.1   LATAR BELAKANG
Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidak teraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saa t istirahat, kesulitan pada saatmemulai pergerakan, dan kekakuan otot. (Arif Muttaqin, 2009)
Penyakit Parkinson pertama kali diuraikan dalam sebuah monograf oleh James Parkinson seorang dokter di London, Inggris, pada tahun 1817. Didalam tulisannya, James Parkinson mengatakan bahwa penyakit (yang akhirnya dinamakan sesuai dengan namanya) tersebut memiliki karakteristik yang khasyakni tremor, kekakuan dan gangguan dalam cara berjalan (gait difficulty).
Penyakit Parkinson bisa menyerang laki-laki dan perempuan. Rata-ratausia mulai terkena penyakit Parkinson adalah 61 tahun, tetapi bisa lebih awal padausia 40 tahun atau bahkan sebelumnya. Jumlah orang di Amerika Serikat dengan penyakit Parkinson's diperkirakan antara 500.000 sampai satu juta, dengan sekitar 50.000 ke 60.000 terdiagnosa baru setiap tahun. Angka tersebut meningkat setiap tahun seiring dengan populasi umur penduduk Amerika.
Sementara sebuah sumber menyatakan bahwa Penyakit Parkinson menyerang sekitar 1 diantara 250 orang yang berusia diatas 40 tahun dan sekitar 1dari 100 orang yang berusia diatas 65 tahun.
Beberapa orang ternama yang mengidap penyakit Parkinson diantaranya adalah Bajin (sasterawan terkenal China), Chen Jingrun (ahli matematik terkenalChina), Muhammad Ali (mantan peninju terkenal A.S.), Michael J Fox (seorang bintang film Hollywood terkenal) yang kini aktif dengan The Michael J Fox Foundation For Parkinson¶s Research.

1.2  Rumusan Masalah
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Parkinson.

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dari Parkinson.
2.      Untuk mengetahui etiologi dari Parkinson.
3.      Untik mengetahui patofisiologi dari perkinson.
4.      Untuk mengetahui klasifikasi dari Parkinson.
5.      Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic dari Parkinson.
6.      Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Parkinson.
7.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari Parkinson.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 2.1 PENGERTIAN PENYAKIT PARKINSON
Penyakit Parkinson adalah penyakit saraf progresif yang berdampak terhadap respon mesenfalon dan pergerakan regulasi. Penyakit ini ini bersifat lambat yang menyerang usia pertengahan atau lanjut, dengan onset pada umur 50 sampai 60an.Tidak ditemukan sebab genetik yang jelas dan tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkannya. Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat dengan usia. Penyakit ini mempunyai karakteristik terjadinya degenerasi dari neuron dopaminergik pas substansia nigra pars kompakta, ditambah dengan adanya inklusi intraplasma yang terdiri dari protein yang disebut dengan Lewy Bodies. Neurodegeneratif pada parkinson juga terjadi pasa daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe nuklei, nukleus basalis Meynert, hipothalamus, korteks cerebri, motor nukelus.
 Parkinsonism adalah sindrom neurologis yang ditandai dengan tremor, kekakuan, instabilitas postural, dan hypokinesia (penurunan gerakan tubuh). Sindrom A adalah asosiasi fitur klinis beberapa dikenali, tanda-tanda, gejala, fenomena atau karakteristik yang sering terjadi bersama-sama. Penyakit Parkinson adalah penyebab paling umum dari Parkinsonisme. Sederhananya - Parkinsonisme termasuk tanda-tanda dan gejala yang menyerupai penyakit Parkinson.
Menurut kamus medis Medilexicon Parkinsonism adalah:
1. Sebuah sindrom neurologis biasanya dihasilkan dari kekurangan dopamin neurotransmitter sebagai konsekuensi dari perubahan degeneratif, pembuluh darah, atau peradangan di ganglia basal, ditandai dengan tremor otot ritmik, kekakuan gerakan, festination, postur murung, dan fasies masklike.
2. Sebuah sindrom serupa dengan parkinson. Beberapa fitur terlihat dengan penyakit Parkinson yang terjadi dengan gangguan lainnya (palsy supranuclear progresif) atau sebagai efek samping obat tertentu (obat antipsikotik).
2.2 ANATOMI FISIOLOGI
1.    Otak
a.    Selaput otak (Meninges)
Durameter
Arakhnoid
Piameter
b.    Otak besar (cerebrum)
Terdiri atas 2 hemisfer, yang dihubungkan oleh bagian putih yang disebut korpus kolosum. Setiap hemisfer terbagi menjadi 4 lobus, yaitu :
1)    Lobus Frontal
a)    Lobus pre frontal
Berfungsi mengontrol emosi, kepribadian, penilaian, penafsiran, tingkah laku yang dipelajari dan perkembangan pikiran.
b)    Area pre sentral (korteks motorik utama )
Terletak persis di bagian anterior sulkus sentral. Rangsangan menimbulkan pergerakan otot yang spesifik di sisi tubuh yang lain
2)    Lobus Parietal
a)    Area sensori somatic primer
Menempati area setelah gyrus sentral, area ini menerima input sensori mayor, seperti rasa nyeri, suhu, sentuhan, fibrasi dan posisi dari sisi kontra leteral tubuh.
b)    Area yang berhubungan dengan sensori
Fungsi utama dari area ini adalah mengintegrasikan informasi sensori, misalnya, ukuran, bentuk dan tekstur dari obyek
3)    Lobus Temporal
Area ini memungkinkan kita menerima dan mengintepretasikan pendengaran, pembauan dan rasa, dan juga menerima serta menyimpan memori yang singkat, memberikan integrasi somatic area auditori dan area yang berhubungan dengan penglihatan. Jenis pemikiran yang dialami merupakan memori pengalaman masa lalu yang sangat terperinci, seni, musik dan rasa.
4)    Lobus Oksipital
a)    Area visul primer
Menerima input dari sebagian psilateral retina bagian temporal dan sebagian konralateral retina bagian basal.
b)    Area visual sekunder
Mengelilingi area visual primer, memungkinkan kita menginterpertasikan apa yang kita lihat dan mengenali makna kerja. Setiap hemisfer serebral/serebrum memproses informasi terhadap sisi tubuh yang berlawanan, misalnya korteks serebral kiri mengontrol pergerakan tangan kanan.
c.    Basal ganglia
Memegang peranan penting fungsi-fungsi motorik tubuh yang berhubungan dengan gerakan-gerakan otomatis dan halus.
d.    Otak kecil (cerebelllum)
Sebagai pusat reflek yang berfungsi memepertahankan keseimbanagan dan sikap badan. Terletak di bagian belakang kranium menempati fosa cerebri posterior di bawah lapisan durameter Tentorium Cerebelli. Di bagian depannya terdapat batang otak. Berat cerebellum sekitar 150 gr atau 8-8% dari berat batang otak seluruhnya. Cerebellum dapat dibagi menjadi hemisper cerebelli kanan dan kiri yang dipisahkan oleh vermis. Fungsi cerebellum pada umumnya adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot sehingga gerakan dapat terlaksana dengan sempurna.
e.    Batang otak
Terdiri atas diencephalon, mid brain, pons dan medula oblongata. Merupakan tempat berbagai macam pusat vital seperti pusat pernafasan, pusat vasomotor, pusat pengatur kegiatan jantung dan pusat muntah, bersin dan batuk.
1)    Diensepalon
Terdiri atas 4 bagian, yaitu :
a)    Talamus
Merupakan stasiun penerima yang penting dalam otak dan pengintegrasian.
b)    Hipotalamus
Merupakan pusat pengatur susunan saraf otonom.
c)    Subtalamus
Belum diketahui fungsinya secara jelas
d)    Epitalamus
e)    Mempunyai peran sebagai
Pendorong emosi dasar seseorang, integrasi informasi olfaktorius, pengaturan sirkadian tubuh, penghambat hormon gonad
2)    Mensefalon
Merupakan bagian pendek batang otak yang terletak di atas spons, yang terbagi atas dua bagian, yaitu :
a)    Bagian anterior
b)    Bagian posterior
Bagian ini bercabang mejadi dua lagi, yaitu : Kolikulus inferior dan kolikulus superior. Kolikulus superior mengurusi masalah penglihatan dan koordinasi gerakan penglihatan
3)    Pons
Sebagai penghubung antara hemisfer serebri, serebelum dan mensensepalon dan penghubung kortikosereberalis, yaitu menghubungkan antara hemisfer serebri dengan serebelum
4)    Medulla oblongata
Merupakan pusat refleks pada jantung, pernafasan, bersin/batuk, menelan, dan pengeluaran air liur dan muntah
f.     Sumsum Tulang Belakang
Berfungsi sebagai pusat reflek spinal dan sebagai jalan impuls yang berjalan dari dan ke otak.
2. Sistem Saraf Perifer
a.    Saraf aferen
Berfungsi membawa informasi sensorikbaik disadari maupun tidak, dari kepala, pembeluluh darah dan ekstermitas
b.    Saraf eferen
Menyampaikan rangsangan dari luar ke pusat
c.    Saraf otonom
Terbagi atas :
1)    Saraf simpatis
Bekerja untuk meningkatkan denyut jantung dan pernafasan serta menurunkan aktifitas saluran cerna
2)    Saraf parasimpatis
Bekerjanya berlawanan dari saraf simpatis
Komponen Saraf  Kranial
a.    Komponen sensorik somatik : N I, N II, N VIII
b.    Komponen motorik omatik : N III, N IV, N VI, N XI, N XII
c.    Komponen campuran sensorik somatik dan motorik somatik : N V, N VII, N IX, N X
d.    Komponen motorik viseral
Eferen viseral merupakan  otonom mencakup  N III, N VII, N IX, N X. Komponen eferen viseral yang 'ikut' dengan beberapa saraf kranial ini, dalam  sistem saraf otonom tergolong pada divisi parasimpatis kranial.
 12 Saraf Kranial
a.    N. Olfactorius
Saraf ini berfungsi sebagai saraf sensasi penghidu, yang terletak dibagian atas dari mukosa hidung di sebelah atas dari concha nasalis superior.
b.    N. Optikus
Saraf ini penting untuk fungsi penglihatan dan merupakan saraf eferen sensori khusus. Pada dasarnya saraf ini merupakan penonjolan dari otak ke perifer.
c.    N. Oculomotorius
Saraf ini mempunyai nucleus yang terdapat pada mesensephalon. Saraf ini berfungsi sebagai saraf untuk mengangkat bola mata
d.    N.  Trochlearis
Pusat saraf ini terdapat pada mesencephlaon. Saraf ini mensarafi muskulus oblique yang berfungsi memutar bola mata
e.    N. Trigeminus
Saraf ini terdiri dari tiga buah saraf yaitu saraf optalmikus, saraf maxilaris dan  saraf mandibularis yang merupakan gabungan saraf sensoris dan motoris. Ketiga saraf ini mengurus sensasi umum pada wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung, mulut, gigi dan meningen.
f.     N. Abducens
Berpusat di pons bagian bawah. Saraf ini menpersarafi muskulus rectus lateralis. Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan bola mata dapat digerakan ke lateral dan sikap bola mata tertarik ke medial seperti pada Strabismus konvergen.
g.    N. Facialias
Saraf ini merupakan gabungan saraf aferen dan eferen. Saraf aferen  berfungsi untuk sensasi umum dan pengecapan sedangkan saraf eferent untuk otot wajah.
h.    N. Statoacusticus
Saraf ini terdiri dari komponen saraf  pendengaran dan saraf    keseimbangan
i.      N. Glossopharyngeus
Saraf ini mempersarafi lidah dan pharing. Saraf ini mengandung serabut sensori khusus. Komponen motoris saraf ini mengurus otot-otot pharing untuk menghasilkan gerakan menelan. Serabut sensori khusus mengurus pengecapan di lidah. Disamping itu juga mengandung serabut sensasi umum di bagian belakang lidah, pharing, tuba, eustachius dan telinga tengah.
j.      N. Vagus
Saraf ini terdiri dari tiga komponen: a) komponen motoris yang mempersarafi otot-otot pharing yang  menggerakkan pita suara, b) komponen sensori yang mempersarafi bagian bawah pharing, c) komponen saraf parasimpatis yang mempersarafi sebagian alat-alat dalam tubuh.
k.    N. Accesorius
Merupakan komponen saraf kranial yang berpusat pada nucleus ambigus dan komponen spinal yang dari nucleus motoris segmen C 1-2-3. Saraf ini mempersarafi muskulus Trapezius dan Sternocieidomastoideus.
l.      Hypoglosus
Saraf ini merupakan saraf eferen atau motoris yang mempersarafi otot-otot lidah. Nukleusnya terletak pada medulla di dasar ventrikularis IV dan menonjol sebagian pada trigonum hypoglosi.

2.3 ETIOLOGI
Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary). Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak disadarinya. Mekanis-me bagaimana kerusakan itu belum jelas benar.
Penyakit Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak faktor-faktor lainnya seperti :
1.      Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon
gejala penyakit Parkinson,
2.      Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan virus, genetik,
toksisitas, atau penyebab lain yang tidak diketahui.

2.4  Manifestasi Klinis
TANDA DAN GEJALA
Penyakit Parkinson memiliki gejala klinis sebagai berikut:
1.Bradikinesia (pergerakan lambat), hilang secara spontan,
2.Tremor yang menetap ,
3.Tindakan dan pergerakan yang tidak terkontrol,
4.Gangguan saraf otonom (sulit tidur, berkeringat, hipotensi ortostatik,
5.Depresi, demensia,
6.Wajah seperti topeng.

2.5 PATOFISIOLOGI
            Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal ada penyakit Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
1.Hipotesis Radikal Bebas Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2.Hipotesis Neurotoksin Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson. Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada setiap kunjungan penderita :
1.Tekanan darah diukur dalam keadaan berbaring dan berdiri, hal ini untuk mendeteksi hipotensi ortostatik.
2.Menilai respons terhadap stress ringan, misalnya berdiri dengan tangan diekstensikan, menghitung surut dari angka seratus, bila masih ada tremor dan rigiditas yang sangat, berarti belum berespon terhadap medikasi.
3.Mencatat dan mengikuti kemampuan fungsional, disini penderita disuruh menulis kalimat sederhana dan menggambarkan lingkaran-lingkaran konsentris dengan tangan kanan dan kiri diatas kertas, kertas ini disimpan untuk perbandingan waktu follow up berikutnya. EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
-CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua eks vakuo)
2.7 KOMPLIKASI
Komplikasi terbanyak dan tersering dari penyakit Parkinson yaitu demensia, aspirasi, dan trauma karena jatuh.
2.8 PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti:
1.Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin.
2.Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah dan memperbaiki otak.
3.Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak.
4.Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.
Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.
2.9 ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Pengkajian
Anamnesis
Anamnesis pada Parkinson meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan pengkajian psikososial.
a.    Identitas Klien.
b.    Meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada usia 50-60 tahun), jenis kelamin (lebih banyak pada laki-laki), pendidikan. Alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk RS, nomor register, dan diagnosa medis.
c.    Keluhan Utama
Gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural.
d.    Riwayat penyakit saat ini
Klien mengeluhkan adanya tremor pada salah satu tangan dan lengan, kemudian ke bagian yang lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun tremor ini tetap unilateral. Adanya perubahan pada sensasi wajah, sikap tubuh, dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi, berkeringat, kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik, sulit menelan, konstipasi.
e.    Riwayat penyakit dahulu
Riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, penggunaan obat-obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, dan penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang lama.
f.     Riwayat penyakit keluarga
Menanyakan apakah ada anggota keluarga terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes melitus.
g.    Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya,perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat,dan respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Adanya perubahan pada tanda vital,yaitu bradikardi,hipotensi,dan penurunan frekuensi pernapasan
B1 (Breathing)
Inspeksi: penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum,sesak napas,dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi: ditemukan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi: ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi: ditemukan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi.
B2 (Blood)
Hipotensi postural.
B3 (Brain)
Perubahan pada gaya berjalan,tremor secara umum pada seluruh otot,dan kaku pada seluruh gerakan.
Tingkat kesadaran
Biasanya compos mentis
Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental : penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang.
Pemeriksaan saraf kranial
Saraf  I: Fungsi penciuman tidak ada kelainan
Saraf  II: Penurunan ketajaman penglihatan
Saraf  III,IV,dan VI: Sewaktu melakukan konvergensi penglihatan menjadi kabur karena tidak mampu mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata.
Saraf  V: Adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah klien mengalami penurunan,saat bicara wajah seperti topeng (sering mengedipkan mata)
Saraf  VII: Persepsi pengecapan dalam batas normal
Saraf  VIII : Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi yang berhubungan dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional
Saraf  IX dan X: Ditemukan kesulitan dalam menelan makanan
Saraf XI : Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
Saraf XII: Lidah simetris, tidak ditemukan deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.
Sistem motorik
Inspeksi gaya berjalan,tremor dan kaku pada seluruh gerakan tonus otot, ditemukan meningkat.
Keseimbangan dan koordinasi,ditemukan mengalami gangguan karena adanya kelemahan otot,kelelahan,perubahan pada gaya berjalan,tremor dan kaku pada seluruh gerakan.
Sistem Sensorik
Mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif
B4 (Bladder)
Penurunan refleks kandung kemih perifer dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum. Ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.
B5 (Bowel)
Penurunan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan kesulitan dalam menelan,konstipasi karena penurunan aktivitas.
B6 (Bone)
Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kelelahan otot, tremor dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas

2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot.
b.    Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuscular, menurunnya kekuatan, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
c.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungsn dengan termor, pelambatan dalam proses makan serta kesulitan menelan dan mengunyah
d.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan volume bicara, perlambatan bicara, ketidakmampuan menggerakan otot-otot wajah.
e.    Koping individu tidak efektif berhubungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit.

INTERVENSI
HAMBATAN MOBILITAS FISIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEKAKUAN DAN KELEMAHAN OTOT (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan       : klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria      : Klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, dan klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas. 
INTERVENSI
RASIONALISASI
Kajian mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
Lakukan program latihan meningkatkan kekuatan otot.
Meningkatkan koordinasi dan ketangkasan, menurunkan kekakuan otot, dan mencegah kontraktor bila otot tidak digunakan.
Lakukan latihan postural.
Latihan postural untuk melawan kecenderungan kepala dan leher tertarik ke depan dan ke bawah.
Ajarkan teknik berjalan khusus :
·         Ajarkan untuk berkonsentrasi pada berjalan tegak, memandang lurus ke depan, dan menggunakan cara berjalan dengan dasar lebar (misalnya berjalan dengan kaki terpisah);
·         Klien dianjurkan untuk latihan berjalan serupa dengan barisan music marching atau suara dengan birama lagu, karena hal ini memberikan rangsangan sensori;
·         Latihan bernapas sambil berjalan membantu untuk menggerakkan rangka tulang rusuk dan transpor oksigen untuk mengisi bagian paru-paru yang miskin oksigen;
·         Periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan.
Teknik berjalan khusus dapat juga dipelajari untuk mengimbangi gaya berjalan menyeret dan kecenderungan tubuh condong ke depan.
Anjurkan mandi hangat dan masase otot.
Mandi hangat dan masase membantu otot-otot rileks pada aktivitas pasif dan aktif serta mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan kekakuan.
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
Untuk memelihara fleksibitas sendi sesuai kemampuan.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitras dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dan tim fisioterapis.

DEFISIT PERAWATAN DIRI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN NEUROMUSCULAR, MENURUNNYA KEKUATAN, KEHILANGAN KONTROL OTOT/KOORDINASI. (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan       : keperawatan diri klien terpenuhi.
Kriteria      : klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan, dan mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu.
INTERVENSI
RASIONALISASI
Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL.
Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individu
Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.
Klien dalam keadaan cemas dan tergantung hal ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan harga diri klien.
Ajarkan dan dukung klien selama aktivitas.
Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.
Rencanakan tindakan untuk defisit penglihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur ke dinding.
Klien akan mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya orang ke ruangan.
Modifikasi lingkungan
Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidak mampuan fungsi.
Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur
Penggunaan pagar di sekeliing tempat tidur, baik tempat tidur di rumah sakit maupun di rumah, atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat tidur untuk memberi bantuandalam mendorong diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain.
Kolaborasi :
Pemberian supositoria dan pencahar;
konsul ke dokter terapi okupasi
Pertolongan utama terhadap fungsi usus atau defekasi. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

PERUBAHAN NUTRISI, KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH YANG BERHUBUNGAN DENGAN TREMOR, PELAMBATAN DALAM PROSES MAKAN, SERTA KESULITAN MENGUNYAH DAN MENELAN. (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan       : kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria      : mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Memperhatikan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
INTERVENSI
RASIONAL
Evaluasi kemampuan makan klien
Klien mengalami keslitan dalam mempertahankan berat badan mereka. Mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Klien berisiko terjadi aspirasi akibat penurunan reflex batuk.
Observasi/timbang berat badan jika  memungkinkan.
Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan intake nutirsi menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam ototo, dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator.
Manajemen mencapai kemampuan menelan
·         Gangguan menelan disebabkan oleh tremor pada lidah, ragu-ragu dalam memulai menelan, kesulitan dalam membentuk makanan dalam bentuk  bolus.
·         Makanan setengah padat dengan sedikit air memudahkan untuk menelan.
·         Klien dianjurkan untuk menelan secara berurutan.
·         Klien diajarkan untuk meletakkan makanan di atas lidah, menutup bibir dan gigi, dan menelan.
·         Klien dianjurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi  mulut dan kemudian ke sisi lain.
·         Untu kmengontrol saliva, klien dianjukrna untuk menahan kepala tetap tegak dan membuat keadaan sadar untuk menalan.
·         Masase otot wajah dan leher sebelum makan dapat membantu
·         Berikan makanan kecil dan lunak.
Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantun pemenuhan nutrisi klien via oral.
Tujuan lain adalah mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan mencegah gangguan pada lambung.
Monitor pemakaian alat bantu
Pemanas elektrik digunakan untuk menjaga makanan tetap hangat dank lien dizinkan untuk istirahat selama waktu yang ditetapkan untuk makan, alat-alat khusus juga membantu makan.
Penggunaan piring yang stabil, cangkir yang tidak pecah bila jatuh, dan alat-alat makan yang dapat digenggam sendiri digunakan sebagai alat bantu.
Kajilah fungsi system gastrointerstinal, yang meliputi suara bising usus, catat terjadi perubahan di dalam lambung serprti mual, dan muntah. Observasi perubahan pergerakan usus, misalnya diare, konstipasi.
Fungsi system gastrointestinal sangat penting untuk memasukkan makanan. Ventilator dapat menyebabkan kembung pada lambung dan perdarahan lambung.
Anjurkan pemberian cairan 2.500 cc/hari selama tidak terjadi ganggungan jantung.
Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama tidak sadar dan mencegah terjadinya  konstipasi.
Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindikasikan, seperti : serum, transferrin, BUN/kreasinin dan glukosa
Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien.

KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN VOLUME BICARA, PERLAMBATAN BICARA, KETIDAKMAMPUAN MENGGERAKKAN OTOT-OTOT WAJAH. (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan          : klien mampu membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Kriteria         : klien dapat berkomunikasi dengan sumber kemampuan yang ada.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi
Gangguan bicara ada pada banyak klien yang mengalami penyakit Parkinson. Bicara mereka yang lemah, monoton, halus menuntut kesadaran berupaya untuk bicara dengan lambat, dengan penekanaan perhatian pada apa yang mereka katakan.
Menentukan cara-cara berkomunikasi, seperti mempertahankan kontak mata, pertanyaan denga jwaban ya atau tidak, menggunakan kertas dan pensil/bolpoin, gambar atau papan tulis, bahasa isyarat, perjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.
Mempertahankan kontak mata akan membuat klien interes selama komunikasi. Jika klien dapat menggerakkan kepala, mengedipkan mata, atau senang dengan isyarat-isyarat sederhana, lebih baik dengan menggunakan pertanyaan ya/tidak.
Pertimbangkan bentuk komunikasi bila terpasang intravenous kateter.
Kateter intravena yang terpasang di tangan akan mengurangi kebebasan menulis/memberi isyarat.
Letakkan bel/lampu panggilan di tempat yang mudah dijangkau, dan berikan penjelasan cara menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakana kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan.
Ketergantungan klien pada ventilator akan lebih baik dan rileks, persaan aman, dan mengerti bahwa saelaam menggunakan ventilator, perawat akan memenuhi segala kebutuhannya.
Buatlah catatan di kantor perawatan tentang keadaan klien yang tak dapat berbicara.
Mengingatkan staf perawatan untuk berespons dengan klien selama memberikan perawatan.
Buat rekaman pembicara klien.
Rekaman pembicaraan untuk beresons dengan klien selama memberikan perawatan.
Anjurkan keluarga/orang lain yang dekat dngan klien untuk brbicara dengan klien, memberikan informasi tentang keluarganya dan keadaan yang sedang terjadi.
Keluarga dapat merasakan akrab dengan klien berada dekat klien selama berbicara, denga npengalaman ini dapat membantu/mempertahankan kontak nyata seperti merasakanan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan kaku.
Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.
Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan latihan percakapan dan membantu petugas kesehatan untuk mengembangkan metoda komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien.

KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI DAN DISFUNGSI KARENA PERKEMBANGAN PENYAKIT (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan       : koping individu menjadi efektif.
Kriteria      : mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.
INTERVENSI
RASIONALISASI
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.
Dukung kemampuan koping
Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu memperlambat kemajuan penyakit. Dukungan dansumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mempertahankan parsitpasi aktif.
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian
Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.
Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
Membantu klien untuk melihat bahwa peawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.
Beri dukungan psikologis secara menyeluruh
Klien penyakit Parkinson sering merasa malu, apatis, tidak adekuat, bosan, dan merasa sendiri. Perasaan ini dapat disebakan akibat kedaan fisik yang labat dan upaya yang besar dibutuhkan erhadap tugas-tugas kecil. Klien dibantu dan dudukung untuk mencapai tuuan yang ditatpkan (seperti meningkatkan mobilitas). Oleh karena Parkinson mengarah akan menunjukkan menarik diri dan depresi, klien harus aktif berpartisasi dalam program trapi yang mencakup program sosial dan rekreasi.
Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dengan memperbaiki kebiasan
Membantu peningkatan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan.
Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari
Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari untuk mencegah waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan danapatis. Setia upaya dibuat untuk mendukung klien keluar dari tugas-tugas yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien mandiri. Apa pun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping.
Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan kelian melakukan sebanyak-banyak hal-hal untuk dirinya.
Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta memengaruhi proses rehabilitasi.
Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi.
Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang.
Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan menarik diri
Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke di mana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut.
Kolaborasi : rujuk, pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.
Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan. Kerja sama fisioterapi, psikoterapi, terapi obat-obatan, dan dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada keadaan ini.






















BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidakteraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat memulai pergerakan, dan kekakuan otot.Penyebab pasti penyakit Parkinson masih belum diketahuii, meskipun penelitian mengarah pada kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan. Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penyebab dari kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya tidak diketahui. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur. Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata.

3.2 SARAN
1. Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya dan untuk
    mencegah terjangkitnya penyakit Parkinson dan mempercepat penyembuhan.
2. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil
    yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.









DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
                Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/cystitis.htm (Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.15 WIB)
www.perawatpintar.web.id (Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.40 WIB)
http://nursingbegin.com/askep-klien-dengan-penyakit-parkinson/ (Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.41 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar