ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS PARKINSON
DISUSUN OLEH KELOMPOK 8 :
ü M.KHOIRUL MUKMIN
ü DWI
ARISKA PUSPITA SARI
ü RULI
SARTIKA
ü MARISA
APRILIA
DOSEN PEMBIMBING : Ns.KARTIKA SARI,S.Kep
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG TAHUN
2013
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum,Wr.Wb.
Alhamdullilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah
SWT. Karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kita diberikan nikmat
kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam
kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta
para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman. Dimana yang
telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati
indahnya keimanan dan Islam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas makalah Asuhan Keperwatan Pada Pasien Dengan Kasus Parkinson ini,
yang diberikan kepada kami sebagai tugas pembelajaran
mata kuliah Sistem
Neurobehaviour II.
Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini
masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di
masa yang akan datang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi
kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Palembang, Januari 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I – PENDAHULUAN ..................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2
1.3 Tujuan........................................................................................... 2
BAB
II – TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 3
2.1 Pengertian Penyakit Parkinson..................................................... 3
2.2 Anatomi Fisiologi......................................................................... 4
2.3 Etiologi ........................................................................................ 9
2.4 Manifestasi Klinis ........................................................................ 10
2.5 Patofisiologi ................................................................................. 10
2.6 Pemeriksaandiagnostik ................................................................ 11
2.7 Komplikasi ................................................................................... 11
2.8 Penatalaksanaan Medis ................................................................ 11
2.9 Asuhan Keperawatan .................................................................. 12
BAB III
– PENUTUP ............................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Penyakit Parkinson adalah suatu
penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat
progressive, ditandai dengan ketidak teraturan pergerakan (movement
disorder), tremor pada saa t istirahat,
kesulitan pada saatmemulai pergerakan, dan kekakuan otot. (Arif
Muttaqin, 2009)
Penyakit Parkinson pertama kali
diuraikan dalam sebuah monograf oleh James Parkinson seorang dokter di
London, Inggris, pada tahun 1817. Didalam tulisannya, James Parkinson
mengatakan bahwa penyakit (yang akhirnya dinamakan sesuai dengan namanya)
tersebut memiliki karakteristik yang khasyakni
tremor, kekakuan dan gangguan dalam cara
berjalan (gait difficulty).
Penyakit Parkinson bisa menyerang
laki-laki dan perempuan. Rata-ratausia mulai terkena penyakit Parkinson adalah
61 tahun, tetapi bisa lebih awal padausia 40 tahun atau bahkan sebelumnya.
Jumlah orang di Amerika Serikat dengan penyakit Parkinson's diperkirakan
antara 500.000 sampai satu juta, dengan sekitar 50.000 ke 60.000
terdiagnosa baru setiap tahun. Angka tersebut meningkat setiap tahun seiring dengan populasi umur penduduk
Amerika.
Sementara sebuah sumber menyatakan
bahwa Penyakit Parkinson menyerang sekitar 1 diantara 250 orang yang berusia
diatas 40 tahun dan sekitar 1dari 100 orang
yang berusia diatas 65 tahun.
Beberapa orang ternama yang mengidap
penyakit Parkinson diantaranya adalah Bajin (sasterawan terkenal China), Chen
Jingrun (ahli matematik terkenalChina), Muhammad Ali (mantan peninju terkenal
A.S.), Michael J Fox (seorang bintang film Hollywood terkenal) yang kini
aktif dengan The Michael J
Fox Foundation For Parkinson¶s Research.
1.2
Rumusan Masalah
Untuk mengetahui bagaimana asuhan
keperawatan pada pasien Parkinson.
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari
Parkinson.
2. Untuk mengetahui etiologi dari
Parkinson.
3. Untik mengetahui patofisiologi dari
perkinson.
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari
Parkinson.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic
dari Parkinson.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari
Parkinson.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan
dari Parkinson.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
PENGERTIAN PENYAKIT PARKINSON
Penyakit
Parkinson adalah penyakit saraf progresif yang berdampak terhadap respon
mesenfalon dan pergerakan regulasi. Penyakit ini ini bersifat lambat yang
menyerang usia pertengahan atau lanjut, dengan onset pada umur 50 sampai
60an.Tidak ditemukan sebab genetik yang jelas dan tidak ada pengobatan yang
dapat menyembuhkannya. Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif
progresif yang berkaitan erat dengan usia. Penyakit ini mempunyai karakteristik
terjadinya degenerasi dari neuron dopaminergik pas substansia nigra pars
kompakta, ditambah dengan adanya inklusi intraplasma yang terdiri dari protein
yang disebut dengan Lewy Bodies. Neurodegeneratif pada parkinson juga terjadi
pasa daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe nuklei, nukleus basalis
Meynert, hipothalamus, korteks cerebri, motor nukelus.
Parkinsonism adalah sindrom neurologis yang
ditandai dengan tremor, kekakuan, instabilitas postural, dan hypokinesia
(penurunan gerakan tubuh). Sindrom A adalah asosiasi fitur klinis beberapa
dikenali, tanda-tanda, gejala, fenomena atau karakteristik yang sering terjadi
bersama-sama. Penyakit Parkinson adalah penyebab paling umum dari
Parkinsonisme. Sederhananya - Parkinsonisme termasuk tanda-tanda dan gejala
yang menyerupai penyakit Parkinson.
Menurut kamus medis Medilexicon Parkinsonism adalah:
1. Sebuah sindrom neurologis biasanya dihasilkan dari
kekurangan dopamin neurotransmitter sebagai konsekuensi dari perubahan
degeneratif, pembuluh darah, atau peradangan di ganglia basal, ditandai dengan
tremor otot ritmik, kekakuan gerakan, festination, postur murung, dan fasies
masklike.
2. Sebuah sindrom serupa dengan parkinson. Beberapa fitur
terlihat dengan penyakit Parkinson yang terjadi dengan gangguan lainnya (palsy
supranuclear progresif) atau sebagai efek samping obat tertentu (obat
antipsikotik).
2.2 ANATOMI FISIOLOGI
1.
Otak
a.
Selaput otak
(Meninges)
Durameter
Arakhnoid
Piameter
b.
Otak besar (cerebrum)
Terdiri atas 2 hemisfer, yang
dihubungkan oleh bagian putih yang disebut korpus kolosum. Setiap hemisfer terbagi
menjadi 4 lobus, yaitu :
1)
Lobus Frontal
a)
Lobus pre frontal
Berfungsi mengontrol emosi,
kepribadian, penilaian, penafsiran, tingkah laku yang dipelajari dan
perkembangan pikiran.
b)
Area pre sentral
(korteks motorik utama )
Terletak persis di bagian anterior
sulkus sentral. Rangsangan menimbulkan pergerakan otot yang spesifik di sisi
tubuh yang lain
2)
Lobus Parietal
a) Area sensori somatic primer
Menempati
area setelah gyrus sentral, area ini menerima input sensori mayor, seperti rasa
nyeri, suhu, sentuhan, fibrasi dan posisi dari sisi kontra leteral tubuh.
b) Area yang berhubungan dengan sensori
Fungsi
utama dari area ini adalah mengintegrasikan informasi sensori, misalnya,
ukuran, bentuk dan tekstur dari obyek
3)
Lobus Temporal
Area
ini memungkinkan kita menerima dan mengintepretasikan pendengaran, pembauan dan
rasa, dan juga menerima serta menyimpan memori yang singkat, memberikan
integrasi somatic area auditori dan area yang berhubungan dengan penglihatan.
Jenis pemikiran yang dialami merupakan memori pengalaman masa lalu yang sangat
terperinci, seni, musik dan rasa.
4)
Lobus Oksipital
a) Area visul primer
Menerima
input dari sebagian psilateral retina bagian temporal dan sebagian konralateral
retina bagian basal.
b) Area visual sekunder
Mengelilingi
area visual primer, memungkinkan kita menginterpertasikan apa yang kita lihat
dan mengenali makna kerja. Setiap hemisfer serebral/serebrum memproses
informasi terhadap sisi tubuh yang berlawanan, misalnya korteks serebral kiri
mengontrol pergerakan tangan kanan.
c.
Basal ganglia
Memegang peranan penting fungsi-fungsi
motorik tubuh yang berhubungan dengan gerakan-gerakan otomatis dan halus.
d.
Otak kecil
(cerebelllum)
Sebagai pusat reflek yang berfungsi
memepertahankan keseimbanagan dan sikap badan. Terletak di bagian
belakang kranium menempati fosa cerebri posterior di bawah lapisan durameter
Tentorium Cerebelli. Di bagian depannya terdapat batang otak. Berat cerebellum
sekitar 150 gr atau 8-8% dari berat batang otak seluruhnya. Cerebellum dapat dibagi
menjadi hemisper cerebelli kanan dan kiri yang dipisahkan oleh vermis. Fungsi
cerebellum pada umumnya adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot sehingga
gerakan dapat terlaksana dengan sempurna.
e.
Batang otak
Terdiri atas diencephalon, mid brain, pons dan medula oblongata. Merupakan
tempat berbagai macam pusat vital seperti pusat pernafasan, pusat vasomotor,
pusat pengatur kegiatan jantung dan pusat muntah, bersin dan batuk.
1)
Diensepalon
Terdiri atas 4 bagian, yaitu :
a)
Talamus
Merupakan stasiun penerima yang penting
dalam otak dan pengintegrasian.
b)
Hipotalamus
Merupakan pusat pengatur susunan saraf
otonom.
c)
Subtalamus
Belum diketahui fungsinya secara jelas
d)
Epitalamus
e)
Mempunyai peran
sebagai
Pendorong emosi dasar seseorang,
integrasi informasi olfaktorius, pengaturan sirkadian tubuh, penghambat hormon
gonad
2)
Mensefalon
Merupakan bagian pendek batang otak
yang terletak di atas spons, yang terbagi atas dua bagian, yaitu :
a)
Bagian anterior
b)
Bagian posterior
Bagian ini bercabang mejadi dua lagi,
yaitu : Kolikulus inferior dan kolikulus superior. Kolikulus superior mengurusi
masalah penglihatan dan koordinasi gerakan penglihatan
3)
Pons
Sebagai penghubung antara hemisfer
serebri, serebelum dan mensensepalon dan penghubung kortikosereberalis, yaitu
menghubungkan antara hemisfer serebri dengan serebelum
4)
Medulla oblongata
Merupakan pusat refleks pada jantung,
pernafasan, bersin/batuk, menelan, dan pengeluaran air liur dan muntah
f.
Sumsum Tulang Belakang
Berfungsi sebagai pusat reflek spinal
dan sebagai jalan impuls yang berjalan dari dan ke otak.
2.
Sistem Saraf Perifer
a.
Saraf aferen
Berfungsi membawa informasi
sensorikbaik disadari maupun tidak, dari kepala, pembeluluh darah dan
ekstermitas
b.
Saraf eferen
Menyampaikan rangsangan dari luar ke
pusat
c.
Saraf otonom
Terbagi atas :
1)
Saraf simpatis
Bekerja untuk meningkatkan denyut
jantung dan pernafasan serta menurunkan aktifitas saluran cerna
2)
Saraf parasimpatis
Bekerjanya berlawanan dari saraf
simpatis
Komponen Saraf Kranial
a.
Komponen sensorik somatik : N I, N II, N VIII
b.
Komponen motorik omatik : N III, N IV, N VI, N XI, N XII
c.
Komponen campuran sensorik somatik dan motorik somatik :
N V, N VII, N IX, N X
d.
Komponen motorik viseral
Eferen viseral
merupakan otonom mencakup N III, N VII, N IX, N X. Komponen eferen
viseral yang 'ikut' dengan beberapa saraf kranial ini, dalam sistem saraf
otonom tergolong pada divisi parasimpatis kranial.
12
Saraf Kranial
a.
N. Olfactorius
Saraf ini
berfungsi sebagai saraf sensasi penghidu, yang terletak dibagian atas dari
mukosa hidung di sebelah atas dari concha nasalis superior.
b.
N. Optikus
Saraf ini penting
untuk fungsi penglihatan dan merupakan saraf eferen sensori khusus. Pada
dasarnya saraf ini merupakan penonjolan dari otak ke perifer.
c.
N. Oculomotorius
Saraf ini
mempunyai nucleus yang terdapat pada mesensephalon. Saraf ini berfungsi sebagai
saraf untuk mengangkat bola mata
d.
N. Trochlearis
Pusat saraf ini
terdapat pada mesencephlaon. Saraf ini mensarafi muskulus oblique yang
berfungsi memutar bola mata
e.
N. Trigeminus
Saraf ini terdiri
dari tiga buah saraf yaitu saraf optalmikus, saraf maxilaris dan saraf
mandibularis yang merupakan gabungan saraf sensoris dan motoris. Ketiga saraf
ini mengurus sensasi umum pada wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung,
mulut, gigi dan meningen.
f.
N. Abducens
Berpusat di pons
bagian bawah. Saraf ini menpersarafi muskulus rectus lateralis. Kerusakan saraf
ini dapat menyebabkan bola mata dapat digerakan ke lateral dan sikap bola mata
tertarik ke medial seperti pada Strabismus konvergen.
g.
N. Facialias
Saraf ini
merupakan gabungan saraf aferen dan eferen. Saraf aferen berfungsi untuk
sensasi umum dan pengecapan sedangkan saraf eferent untuk otot wajah.
h.
N. Statoacusticus
Saraf ini terdiri
dari komponen saraf pendengaran dan saraf keseimbangan
i.
N. Glossopharyngeus
Saraf ini
mempersarafi lidah dan pharing. Saraf ini mengandung serabut sensori khusus.
Komponen motoris saraf ini mengurus otot-otot pharing untuk menghasilkan
gerakan menelan. Serabut sensori khusus mengurus pengecapan di lidah. Disamping
itu juga mengandung serabut sensasi umum di bagian belakang lidah, pharing,
tuba, eustachius dan telinga tengah.
j.
N. Vagus
Saraf ini terdiri
dari tiga komponen: a) komponen motoris yang mempersarafi otot-otot pharing
yang menggerakkan pita suara, b) komponen sensori yang mempersarafi
bagian bawah pharing, c) komponen saraf parasimpatis yang mempersarafi sebagian
alat-alat dalam tubuh.
k.
N. Accesorius
Merupakan komponen
saraf kranial yang berpusat pada nucleus ambigus dan komponen spinal yang dari
nucleus motoris segmen C 1-2-3. Saraf ini mempersarafi muskulus Trapezius dan
Sternocieidomastoideus.
l.
Hypoglosus
Saraf ini
merupakan saraf eferen atau motoris yang mempersarafi otot-otot lidah.
Nukleusnya terletak pada medulla di dasar ventrikularis IV dan menonjol
sebagian pada trigonum hypoglosi.
2.3 ETIOLOGI
Parkinson
disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu
kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki
(involuntary). Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan
yang tidak disadarinya. Mekanis-me bagaimana kerusakan itu belum jelas benar.
Penyakit Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak faktor-faktor lainnya seperti :
Penyakit Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak faktor-faktor lainnya seperti :
1.
Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di
otak memberikan respon
gejala penyakit Parkinson,
2.
Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan
dengan virus, genetik,
toksisitas, atau penyebab lain yang
tidak diketahui.
2.4 Manifestasi Klinis
TANDA DAN GEJALA
Penyakit
Parkinson memiliki gejala klinis sebagai berikut:
1.Bradikinesia
(pergerakan lambat), hilang secara spontan,
2.Tremor yang
menetap ,
3.Tindakan dan
pergerakan yang tidak terkontrol,
4.Gangguan saraf
otonom (sulit tidur, berkeringat, hipotensi ortostatik,
5.Depresi,
demensia,
6.Wajah seperti
topeng.
2.5 PATOFISIOLOGI
Dua
hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal ada penyakit
Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
1.Hipotesis Radikal Bebas Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2.Hipotesis Neurotoksin Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson. Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
1.Hipotesis Radikal Bebas Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2.Hipotesis Neurotoksin Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson. Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Pada setiap kunjungan penderita :
1.Tekanan darah diukur dalam keadaan berbaring dan berdiri,
hal ini untuk mendeteksi hipotensi ortostatik.
2.Menilai respons terhadap stress ringan, misalnya berdiri
dengan tangan diekstensikan, menghitung surut dari angka seratus, bila masih
ada tremor dan rigiditas yang sangat, berarti belum berespon terhadap medikasi.
3.Mencatat dan mengikuti kemampuan fungsional, disini
penderita disuruh menulis kalimat sederhana dan menggambarkan
lingkaran-lingkaran konsentris dengan tangan kanan dan kiri diatas kertas,
kertas ini disimpan untuk perbandingan waktu follow up berikutnya. EEG
(biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
-CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua eks vakuo)
-CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua eks vakuo)
2.7 KOMPLIKASI
Komplikasi terbanyak dan tersering dari
penyakit Parkinson yaitu demensia, aspirasi, dan trauma karena jatuh.
2.8 PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan
medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti:
1.Antikolinergik
untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin.
2.Levodopa,
merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor
dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah dan memperbaiki
otak.
3.Bromokiptin,
agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak.
4.Amantidin yang
dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.
Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.
Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.
2.9 ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Anamnesis
Anamnesis pada Parkinson meliputi
identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit
dahulu, dan pengkajian psikososial.
a.
Identitas Klien.
b.
Meliputi nama, umur
(lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada usia 50-60 tahun), jenis kelamin
(lebih banyak pada laki-laki), pendidikan. Alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk RS, nomor register, dan diagnosa medis.
c.
Keluhan Utama
Gangguan gerakan, kaku otot, tremor
menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural.
d.
Riwayat penyakit saat
ini
Klien mengeluhkan adanya tremor pada
salah satu tangan dan lengan, kemudian ke bagian yang lain, dan akhirnya bagian
kepala, walaupun tremor ini tetap unilateral. Adanya perubahan pada sensasi
wajah, sikap tubuh, dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi,
berkeringat, kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik, sulit
menelan, konstipasi.
e.
Riwayat penyakit
dahulu
Riwayat hipertensi, diabetes melitus,
penyakit jantung, anemia, penggunaan obat-obat antikoagulan, aspirin,
vasodilator, dan penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang
lama.
f.
Riwayat penyakit
keluarga
Menanyakan apakah ada anggota keluarga
terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes melitus.
g.
Pengkajian
psiko-sosio-spiritual
Menilai respons emosi klien terhadap
penyakit yang dideritanya,perubahan peran klien dalam keluarga dan
masyarakat,dan respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Adanya perubahan pada tanda vital,yaitu
bradikardi,hipotensi,dan penurunan frekuensi pernapasan
B1 (Breathing)
Inspeksi: penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi
sputum,sesak napas,dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi: ditemukan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi: ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi: ditemukan bunyi napas
tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi.
B2 (Blood)
Hipotensi postural.
B3 (Brain)
Perubahan pada gaya berjalan,tremor
secara umum pada seluruh otot,dan kaku pada seluruh gerakan.
Tingkat kesadaran
Biasanya compos mentis
Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental : penurunan status
kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori baik jangka pendek dan
memori jangka panjang.
Pemeriksaan saraf kranial
Saraf
I: Fungsi penciuman tidak ada kelainan
Saraf
II: Penurunan ketajaman penglihatan
Saraf
III,IV,dan VI: Sewaktu melakukan konvergensi penglihatan menjadi kabur
karena tidak mampu mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata.
Saraf
V: Adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah klien
mengalami penurunan,saat bicara wajah seperti topeng (sering mengedipkan mata)
Saraf
VII: Persepsi pengecapan dalam batas normal
Saraf
VIII : Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi yang berhubungan dengan
proses senilis dan penurunan aliran darah regional
Saraf
IX dan X: Ditemukan kesulitan dalam menelan makanan
Saraf XI : Tidak ada atrofi otot
sternokleidomastoideus dan trapezius
Saraf XII: Lidah simetris, tidak
ditemukan deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.
Sistem motorik
Inspeksi gaya berjalan,tremor dan kaku
pada seluruh gerakan tonus otot, ditemukan meningkat.
Keseimbangan dan koordinasi,ditemukan
mengalami gangguan karena adanya kelemahan otot,kelelahan,perubahan pada gaya
berjalan,tremor dan kaku pada seluruh gerakan.
Sistem Sensorik
Mengalami penurunan terhadap sensasi
sensorik secara progresif
B4 (Bladder)
Penurunan refleks kandung kemih perifer
dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.
Ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan
urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.
B5 (Bowel)
Penurunan nutrisi berkurang yang
berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan
kesulitan dalam menelan,konstipasi karena penurunan aktivitas.
B6 (Bone)
Adanya kesulitan untuk beraktivitas
karena kelemahan, kelelahan otot, tremor dan kaku pada seluruh gerakan
memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas
2.
Diagnosa Keperawatan
a.
Hambatan mobilitas
fisik berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot.
b.
Defisit perawatan
diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuscular, menurunnya kekuatan,
kehilangan kontrol otot/koordinasi.
c.
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungsn dengan termor, pelambatan dalam proses
makan serta kesulitan menelan dan mengunyah
d.
Kerusakan komunikasi
verbal berhubungan dengan penurunan volume bicara, perlambatan bicara,
ketidakmampuan menggerakan otot-otot wajah.
e.
Koping individu tidak
efektif berhubungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit.
INTERVENSI
HAMBATAN MOBILITAS FISIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEKAKUAN
DAN KELEMAHAN OTOT (Arif Muttaqin, 2008)
|
|
Tujuan : klien mampu melaksanakan aktivitas
fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria : Klien dapat ikut serta dalam program
latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, dan
klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
|
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
Kajian mobilitas
yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur
fungsi motorik.
|
Mengetahui tingkat
kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
|
Lakukan program
latihan meningkatkan kekuatan otot.
|
Meningkatkan
koordinasi dan ketangkasan, menurunkan kekakuan otot, dan mencegah kontraktor
bila otot tidak digunakan.
|
Lakukan latihan
postural.
|
Latihan postural
untuk melawan kecenderungan kepala dan leher tertarik ke depan dan ke bawah.
|
Ajarkan teknik
berjalan khusus :
·
Ajarkan untuk
berkonsentrasi pada berjalan tegak, memandang lurus ke depan, dan menggunakan
cara berjalan dengan dasar lebar (misalnya berjalan dengan kaki terpisah);
·
Klien dianjurkan
untuk latihan berjalan serupa dengan barisan music marching atau suara dengan
birama lagu, karena hal ini memberikan rangsangan sensori;
·
Latihan bernapas
sambil berjalan membantu untuk menggerakkan rangka tulang rusuk dan transpor
oksigen untuk mengisi bagian paru-paru yang miskin oksigen;
·
Periode istirahat
yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan.
|
Teknik berjalan
khusus dapat juga dipelajari untuk mengimbangi gaya berjalan menyeret dan
kecenderungan tubuh condong ke depan.
|
Anjurkan mandi
hangat dan masase otot.
|
Mandi hangat dan
masase membantu otot-otot rileks pada aktivitas pasif dan aktif serta
mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan kekakuan.
|
Bantu klien
melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
|
Untuk memelihara
fleksibitas sendi sesuai kemampuan.
|
Kolaborasi dengan
ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
|
Peningkatan
kemampuan dalam mobilisasi ekstremitras dapat ditingkatkan dengan latihan
fisik dan tim fisioterapis.
|
DEFISIT PERAWATAN DIRI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN
NEUROMUSCULAR, MENURUNNYA KEKUATAN, KEHILANGAN KONTROL OTOT/KOORDINASI. (Arif Muttaqin,
2008)
|
|
Tujuan : keperawatan diri klien terpenuhi.
Kriteria
: klien dapat menunjukkan perubahan
gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan, dan mengidentifikasi personal/masyarakat
yang dapat membantu.
|
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
Kaji kemampuan dan
tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL.
|
Membantu dalam
mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individu
|
Hindari apa yang
tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.
|
Klien dalam keadaan
cemas dan tergantung hal ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan harga diri
klien.
|
Ajarkan dan dukung
klien selama aktivitas.
|
Dukungan pada klien
selama aktivitas kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.
|
Rencanakan tindakan
untuk defisit penglihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu
tempat, dekatkan tempat tidur ke dinding.
|
Klien akan mampu
melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya orang ke
ruangan.
|
Modifikasi
lingkungan
|
Modifikasi
lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidak mampuan fungsi.
|
Gunakan pagar di
sekeliling tempat tidur
|
Penggunaan pagar di
sekeliing tempat tidur, baik tempat tidur di rumah sakit maupun di rumah,
atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat tidur untuk memberi
bantuandalam mendorong diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain.
|
Kolaborasi :
Pemberian
supositoria dan pencahar;
konsul ke dokter
terapi okupasi
|
Pertolongan utama
terhadap fungsi usus atau defekasi. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi
kebutuhan khusus.
|
PERUBAHAN NUTRISI, KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH YANG
BERHUBUNGAN DENGAN TREMOR, PELAMBATAN DALAM PROSES MAKAN, SERTA KESULITAN
MENGUNYAH DAN MENELAN. (Arif Muttaqin, 2008)
|
|
Tujuan
: kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi.
Kriteria : mengerti tentang pentingnya nutrisi
bagi tubuh. Memperhatikan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil
pemeriksaan laboratorium.
|
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Evaluasi kemampuan
makan klien
|
Klien mengalami
keslitan dalam mempertahankan berat badan mereka. Mulut mereka kering akibat
obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Klien berisiko
terjadi aspirasi akibat penurunan reflex batuk.
|
Observasi/timbang
berat badan jika memungkinkan.
|
Tanda kehilangan
berat badan (7-10%) dan kekurangan intake nutirsi menunjang terjadinya
masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam ototo, dan kepekaan terhadap
pemasangan ventilator.
|
Manajemen mencapai
kemampuan menelan
·
Gangguan menelan
disebabkan oleh tremor pada lidah, ragu-ragu dalam memulai menelan, kesulitan
dalam membentuk makanan dalam bentuk
bolus.
·
Makanan setengah
padat dengan sedikit air memudahkan untuk menelan.
·
Klien dianjurkan
untuk menelan secara berurutan.
·
Klien diajarkan
untuk meletakkan makanan di atas lidah, menutup bibir dan gigi, dan menelan.
·
Klien dianjurkan
untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi
mulut dan kemudian ke sisi lain.
·
Untu kmengontrol
saliva, klien dianjukrna untuk menahan kepala tetap tegak dan membuat keadaan
sadar untuk menalan.
·
Masase otot wajah
dan leher sebelum makan dapat membantu
·
Berikan makanan
kecil dan lunak.
|
Meningkatkan
kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantun pemenuhan nutrisi klien via
oral.
Tujuan lain adalah
mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan mencegah
gangguan pada lambung.
|
Monitor pemakaian
alat bantu
|
Pemanas elektrik
digunakan untuk menjaga makanan tetap hangat dank lien dizinkan untuk
istirahat selama waktu yang ditetapkan untuk makan, alat-alat khusus juga
membantu makan.
Penggunaan piring
yang stabil, cangkir yang tidak pecah bila jatuh, dan alat-alat makan yang
dapat digenggam sendiri digunakan sebagai alat bantu.
|
Kajilah fungsi
system gastrointerstinal, yang meliputi suara bising usus, catat terjadi
perubahan di dalam lambung serprti mual, dan muntah. Observasi perubahan
pergerakan usus, misalnya diare, konstipasi.
|
Fungsi system
gastrointestinal sangat penting untuk memasukkan makanan. Ventilator dapat
menyebabkan kembung pada lambung dan perdarahan lambung.
|
Anjurkan pemberian
cairan 2.500 cc/hari selama tidak terjadi ganggungan jantung.
|
Mencegah terjadinya
dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama tidak sadar dan mencegah
terjadinya konstipasi.
|
Lakukan pemeriksaan
laboratorium yang diindikasikan, seperti : serum, transferrin, BUN/kreasinin
dan glukosa
|
Memberikan
informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien.
|
KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PENURUNAN VOLUME BICARA, PERLAMBATAN BICARA, KETIDAKMAMPUAN MENGGERAKKAN
OTOT-OTOT WAJAH. (Arif Muttaqin, 2008)
|
|
Tujuan
: klien mampu membuat
teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan
meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Kriteria
: klien dapat berkomunikasi
dengan sumber kemampuan yang ada.
|
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Kaji kemampuan
klien untuk berkomunikasi
|
Gangguan bicara ada
pada banyak klien yang mengalami penyakit Parkinson. Bicara mereka yang
lemah, monoton, halus menuntut kesadaran berupaya untuk bicara dengan lambat,
dengan penekanaan perhatian pada apa yang mereka katakan.
|
Menentukan
cara-cara berkomunikasi, seperti mempertahankan kontak mata, pertanyaan denga
jwaban ya atau tidak, menggunakan kertas dan pensil/bolpoin, gambar atau
papan tulis, bahasa isyarat, perjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.
|
Mempertahankan
kontak mata akan membuat klien interes selama komunikasi. Jika klien dapat
menggerakkan kepala, mengedipkan mata, atau senang dengan isyarat-isyarat
sederhana, lebih baik dengan menggunakan pertanyaan ya/tidak.
|
Pertimbangkan
bentuk komunikasi bila terpasang intravenous kateter.
|
Kateter intravena
yang terpasang di tangan akan mengurangi kebebasan menulis/memberi isyarat.
|
Letakkan bel/lampu
panggilan di tempat yang mudah dijangkau, dan berikan penjelasan cara
menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan
klien. Katakana kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan.
|
Ketergantungan
klien pada ventilator akan lebih baik dan rileks, persaan aman, dan mengerti
bahwa saelaam menggunakan ventilator, perawat akan memenuhi segala
kebutuhannya.
|
Buatlah catatan di
kantor perawatan tentang keadaan klien yang tak dapat berbicara.
|
Mengingatkan staf
perawatan untuk berespons dengan klien selama memberikan perawatan.
|
Buat rekaman
pembicara klien.
|
Rekaman pembicaraan
untuk beresons dengan klien selama memberikan perawatan.
|
Anjurkan
keluarga/orang lain yang dekat dngan klien untuk brbicara dengan klien,
memberikan informasi tentang keluarganya dan keadaan yang sedang terjadi.
|
Keluarga dapat
merasakan akrab dengan klien berada dekat klien selama berbicara, denga
npengalaman ini dapat membantu/mempertahankan kontak nyata seperti
merasakanan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan kaku.
|
Kolaborasi dengan
ahli wicara bahasa.
|
Ahli terapi wicara
bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan latihan percakapan dan
membantu petugas kesehatan untuk mengembangkan metoda komunikasi untuk
memenuhi kebutuhan klien.
|
KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF YANG BERHUBUNGAN DENGAN
DEPRESI DAN DISFUNGSI KARENA PERKEMBANGAN PENYAKIT (Arif Muttaqin,
2008)
|
|
Tujuan
: koping individu menjadi efektif.
Kriteria
: mampu menyatakan atau
mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang
sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui
dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat
tanpa harga diri yang negatif.
|
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
Kaji perubahan dari
gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
|
Menentukan bantuan
individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.
|
Dukung kemampuan
koping
|
Kepatuhan terhadap
program latihan dan berjalan membantu memperlambat kemajuan penyakit.
Dukungan dansumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan
penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mempertahankan parsitpasi aktif.
|
Catat ketika klien
menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah
kematian
|
Mendukung penolakan
terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan
kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.
|
Pernyataan
pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian
tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar
mengontrol sisi yang sehat.
|
Membantu klien
untuk melihat bahwa peawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh
tubuh. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima
situasi baru.
|
Beri dukungan
psikologis secara menyeluruh
|
Klien penyakit
Parkinson sering merasa malu, apatis, tidak adekuat, bosan, dan merasa
sendiri. Perasaan ini dapat disebakan akibat kedaan fisik yang labat dan
upaya yang besar dibutuhkan erhadap tugas-tugas kecil. Klien dibantu dan
dudukung untuk mencapai tuuan yang ditatpkan (seperti meningkatkan
mobilitas). Oleh karena Parkinson mengarah akan menunjukkan menarik diri dan
depresi, klien harus aktif berpartisasi dalam program trapi yang mencakup
program sosial dan rekreasi.
|
Bantu dan anjurkan
perawatan yang baik dengan memperbaiki kebiasan
|
Membantu
peningkatan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area
kehidupan.
|
Bentuk program
aktivitas pada keseluruhan hari
|
Bentuk program
aktivitas pada keseluruhan hari untuk mencegah waktu tidur yang terlalu
banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan danapatis. Setia upaya
dibuat untuk mendukung klien keluar dari tugas-tugas yang termasuk koping
dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien mandiri. Apa
pun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu mencapai tujuan dengan
meningkatnya kemampuan koping.
|
Anjurkan orang yang
terdekat untuk mengizinkan kelian melakukan sebanyak-banyak hal-hal untuk dirinya.
|
Menghidupkan
kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta
memengaruhi proses rehabilitasi.
|
Dukung perilaku
atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas
rehabilitasi.
|
Klien dapat
beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa
mendatang.
|
Monitor gangguan
tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan menarik diri
|
Dapat
mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari
stroke di mana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut.
|
Kolaborasi : rujuk,
pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.
|
Dapat memfasilitasi
perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan. Kerja sama
fisioterapi, psikoterapi, terapi obat-obatan, dan dukungan partisipasi
kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada
keadaan ini.
|
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Penyakit
Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf
(neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidakteraturan
pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat
memulai pergerakan, dan kekakuan otot.Penyebab pasti penyakit Parkinson masih
belum diketahuii, meskipun penelitian mengarah pada kombinasi faktor genetik
dan lingkungan.
Penderita
Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan
terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan
oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa
menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai
suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan. Pada penyakit Parkinson,
sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami kemunduran sehingga pembentukan
dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih
sedikit. Penyebab dari kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya
tidak diketahui. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang
secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul
sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan
berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur.
Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor
terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan
tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata.
3.2 SARAN
1. Berikan
penjelasan yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya dan untuk
mencegah terjangkitnya penyakit Parkinson
dan mempercepat penyembuhan.
2. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil
2. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil
yang maksimal dan mencegah terjadinya
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif.
2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem
Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika.
Corwin,
Elizabeth J. 2009. Buku Saku
Patofisiologi. Jakarta: EGC.
http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/cystitis.htm
(Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.15 WIB)
www.perawatpintar.web.id (Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.40 WIB)
www.perawatpintar.web.id (Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.40 WIB)
http://nursingbegin.com/askep-klien-dengan-penyakit-parkinson/
(Diakses pada 28 Januari 2013 Jam 21.41 WIB)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar