BELL PALSY

Kelompok 4:
Aldemi Maya Sakti
Deni Juni Fourteen
Meika Nora Ariani
Umi Anggraini
Deni Juni Fourteen
Meika Nora Ariani
Umi Anggraini
Dosen Pembimbing :
Kartika
Sari,S.Kep,Ners
PROGRAM
STUDY ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
2013-2014
KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
yang berjudul ”BELL PALSY”.
Saya menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan
dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak
untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam proses
penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara
penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan
dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh
karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima
masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pembaca.
Palembang ,Januari 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR............................................................................... i
DAFTAR
ISI.............................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................... 3
2.1.Konsep Penyakit........................................................................... 3
2.1.1.Definisi Asma Bronkial......................................................... 3
2.1.2.Anatomi Fisiologi.................................................................. 4
2.1.3.Etiologi.................................................................................. 5
2.1.4.
Manifestasi klinik................................................................. 6
2.1.5.Patofisiologi.......................................................................... 8
2.1.6. Komplikasi...........................................................................
9
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang........................................................
9
2.1.8 Penatalaksanaan....................................................................
10
2.2.Konsep Askep........................................................................................
11
2.2.1.Pengkajian..............................................................................
11
2.2.2. Diagnosa...............................................................................
13
2.2.3.Intervensi dan Rasional..........................................................
13
BAB III
PENUTUP...................................................................................
17
3.1 Kesimpulan...................................................................................
17
3.2 Saran.............................................................................................
17
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelumpuhan (parese) nervus fasialis
merupakan kelumpuhan yang meliputi otot-ototwajah.
Kelumpuhan nervus fasialis ini juga disebut bell’s palsy, bell’s palsy
menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di
dunia,insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden
terendahditemikan di Swedia tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bell’s
palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.000orang, 63% mengenai wajah sisi
kanan. Insiden Bell’s palsy rata-rata 15-30 kasus per 100.000 populasi. Bell’s
palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandinganyang sama. Akan tetapi,
wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkenadaripada laki-laki
pada kelompok umur yang sama.Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun
lebih sering terjadi pada umur 15-50tahun. Pada kehamilan trisemester ketiga
dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bell’s palsy lebih tinggi
daripada wanita tidak hamil, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat .Berdasarkan
angka kesakitan diatas, maka kelompok tertarik membahas tentangpembahasan makalah dengan judul“ Asuhan
Keperawatan pada Klien Bell’s Palsy”
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Bell Palsy?
2. Bagaimana Anatomi Fisiologinya?
3. Etiologi
4. Manifestasi Klinik
5. Bagaimana Patofisiologinya?
6. Komplikasi
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Penatalaksanaan baik secara medis maupun keperawatan
9. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan
1.3. Tujuan
1.
Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran tentang
pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada klien Bell’s palsy dengan menggunakan
metode proses keperawatan.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mendapatkan gambaran tentang
konsep penyakit Bell’s palsy
b.
Mampu membuat pengkajian keperawatan pada klien dengan
Bell’s palsy
c.
Mampu membuat diagnosa keperawatan berdasarkan
anamnesa
d.
Mampu membuat rencana keperawatan berdasakan teori
keperawatan
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
KONSEP PENYAKIT
2.1.1.DEFINISI
Bell’s palsy
atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor neuron akibat
paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak
diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit
neurologis lainnya.
Paralisis
fasial idiopatik atau Bell’s palsy, ditemukan oleh Sir Charles Bell, dokter
dari Skotlandia. Bell’s palsy sering terjadi setelah infeksi virus atau setelah
imunisasi, lebih sering terjadi pada wanita hamil dan penderita diabetes serta
penderita hipertensi. Bukti-bukti dewasa ini menunjukkan bahwa Herpes simplex
tipe 1 berperan pada kebanyakan kasus. Berdasarkan temuan ini, paralisis fasial
idiopatik sebagai nama lain dari Bell’s palsy tidak tepat lagi dan mungkin
lebih baik menggantinya dengan istilah paralisis fasial herpes simpleks atau
paralisis fasial herpetik.
Lokasi
cedera nervus fasialis pada Bell’s palsy adalah di bagian perifer nukleus
nervus VII. Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Salah satu
gejala Bell’s palsy adalah kelopak mata sulit menutup dan saat penderita
berusaha menutup kelopak matanya, matanya terputar ke atas dan matanya tetap
kelihatan. Gejala ini disebut juga fenomena Bell. Pada observasi dapat dilihat
juga bahwa gerakan kelopak mata yang tidak sehat lebih lambat jika dibandingkan
dengan gerakan bola mata yang sehat (lagoftalmos).
2.1.2. ANATOMI FISIOLOGI
Saraf otak
ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :
2
Serabut somato motorik, yang mensarafi otot-otot wajah
kecuali m. levator palpebrae (n.II), otot platisma, stilohioid, digastrikus
bagian posterior dan stapedius di telinga tengah.
3
Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang
dari nukleus salivatorius superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan
mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula
submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
4
Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari
alat pengecap di dua pertiga bagian depan lidah.
5
Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga
rasa suhu dan rasa raba dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi
oleh nervus trigeminus.
Nervus VII terutama terdiri dari
saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot mimik wajah. Komponen sensorisnya
kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang mengantarkan rasa kecap dari dua
pertiga bagian lidah dan sensasi kulit dari dinding anterior kanalis auditorius
eksterna. Serabut-serabut kecap pertama-tama melintasi nervus lingual, yaitu
cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke korda timpani dimana ia membawa
sensasi kecap melalui nervus fasialis ke nukleus traktus solitarius.
Serabut-serabut sekretomotor menginnervasi kelenjar lakrimal melalui nervus
petrosus superfisial major dan kelenjar sublingual serta kelenjar submaksilar
melalui korda tympani.
Nukleus (inti) motorik nervus VII
terletak di ventrolateral nukleus abdusens, dan serabut nervus fasialis dalam
pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventrolateral nukleus abdusens
sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. Karena
posisinya yang berdekatan (jukstaposisi) pada lantai ventrikel IV, maka nervus
VI dan VII dapat terkena bersama-sama oleh lesi vaskuler atau lesi infiltratif.
Nervus fasialis masuk ke meatus akustikus internus bersama dengan nervus
akustikus lalu membelok tajam ke depan dan ke bawah di dekat batas anterior
vestibulum telinga dalam. Pada sudut ini (genu) terletak ganglion sensoris yang
disebut genikulatum karena sangat dekat dengan genu. Nervus fasialis terus
berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum untuk
memberikan percabangan ke ganglion pterygopalatina, yaitu nervus petrosus
superfisial major, dan di sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m.
stapedius yang dihubungkan oleh korda timpani. Lalu n. fasialis keluar dari
kranium melalui foramen stylomastoideus kemudian melintasi kelenjar parotis dan
terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah, m. stilomastoideus,
platisma dan m. digastrikus venter posterior.
Lokasi cedera nervus fasialis pada
Bell’s palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus VII. Cedera tersebut
terjadi di dekat ganglion genikulatum. Jika lesinya berlokasi di bagian
proksimal ganglion genikulatum, maka paralisis motorik akan disertai gangguan
fungsi pengecapan dan gangguan fungsi otonom. Lesi yang terletak antara
ganglion genikulatum dan pangkal korda timpani akan mengakibatkan hal serupa
tetapi tidak mengakibatkan gangguan lakrimasi. Jika lesinya berlokasi di
foramen stilomastoideus maka yang terjadi hanya paralisis fasial (wajah).
2.1.3. ETIOLOGI
Diperkirakan,
penyebab Bell’s palsy adalah virus. Akan tetapi, baru beberapa tahun terakhir
ini dapat dibuktikan etiologi ini secara logis karena pada umumnya kasus Bell’s
palsy sekian lama dianggap idiopatik. Telah diidentifikasi gen Herpes Simpleks
Virus (HSV) dalam ganglion genikulatum penderita Bell’s palsy. Dulu, masuk
angin (misalnya hawa dingin, AC, atau menyetir mobil dengan jendela terbuka)
dianggap sebagai satu-satunya pemicu Bell’s palsy. Akan tetapi, sekarang mulai
diyakini HSV sebagai penyebab Bell’s palsy. Tahun 1972, McCormick pertama kali
mengusulkan HSV sebagai penyebab paralisis fasial idiopatik. Dengan analaogi
bahwa HSV ditemukan pada keadaan masuk angin (panas dalam/cold sore), dan
beliau memberikan hipotesis bahwa HSV bisa tetap laten dalam ganglion
genikulatum. Sejak saat itu, penelitian biopsi memperlihatkan adanya HSV dalam
ganglion genikulatum pasien Bell’s palsy. Murakami at.all melakukan tes PCR
(Polymerase-Chain Reaction) pada cairan endoneural N.VII penderita Bell’s palsy
berat yang menjalani pembedahan dan menemukan HSV dalam cairan endoneural.
Apabila HSV diinokulasi pada telinga dan lidah tikus, maka akan ditemukan
antigen virus dalam nervus fasialis dan ganglion genikulatum. Varicella Zooster
Virus (VZV) tidak ditemukan pada penderita Bell’s palsy tetapi ditemukan pada
penderita Ramsay Hunt syndrome.
2.1.4. MANIFESTASI KLINIK
Pada awalnya, penderita merasakan
ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur, menggosok gigi atau berkumur,
minum atau berbicara. Setelah merasakan adanya kelainan di daerah mulut maka
penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat dengan menggunakan cermin.
Mulut tampak moncong terlebih pada
saat meringis, kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos), waktu
penderita disuruh menutup kelopak matanya maka bola mata tampak berputar ke
atas.(tanda Bell). Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila berkumur
atau minum maka air keluar melalui sisi mulut yang lumpuh. Selanjutnya gejala
dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi.
1.
Lesi di luar foramen stilomastoideusMulut tertarik ke
arah sisi mulut yang sehat, makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan
sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang. Lipatan kulit dahi
menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka
aur mata akan keluar terus menerus.
2.
Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda
timpani)Gejala dan tanda klinik seperti pada (1), ditambah dengan hilangnya
ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena
berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus
intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana
korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis.
3.
Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan
muskulus stapedius)Gejala dan tanda klinik seperti pada (1), (2), ditambah
dengan adanya hiperakusis.
4.
Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan
ganglion genikulatum) Gejala dan tanda klinik seperti (1), (2), (3) disertai
dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. Kasus seperti ini dapat
terjadi pasca herpes di membran timpani dan konka. Ramsay Hunt adalah paralisis
fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum.
Lesi herpetik terlibat di membran timpani, kanalis auditorius eksterna dan
pina.
5.
Lesi di daerah meatus akustikus interna Gejala dan
tanda klinik seperti (1), (2), (3), (4), ditambah dengan tuli sebagi akibat
dari terlibatnya nervus akustikus.
6.
Lesi di tempat keluarnya nervus fasialis dari
pons.Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas, disertai gejala dan tanda
terlibatnya nervus trigeminus, nervus akustikus, dan kadang-kadang juga nervus
abdusens, nervus aksesorius, dan nervus hipoglosus.
7.
Sindrom air mata buaya (crocodile tears syndrome)
merupakan gejala sisa Bell’s palsy, beberapa bulan pasca awitan, dengan
manifestasi klinik: air mata bercucuran dari mata yang terkena pada saat
penderita makan. Nervus fasilais menginervasi glandula lakrimalis dan glandula
salivatorius submandibularis. Diperkirakan terjadi regenerasi saraf
salivatorius tetapi dalam perkembangannya terjadi ‘salah jurusan’ menuju ke glandula
lakrimalis.
2.1.5.
PATOFISIOLOGI
Para ahli menyebutkan bahwa pada
Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah
tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bell’s palsy hampir selalu
terjadi secara unilateral. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau
lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau
kambuh. Patofisiologinya belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan
terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan
diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada
saat melalui tulang temporal. Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang
temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit
pada pintu keluar sebagai foramen mental. Dengan bentukan kanalis yang unik
tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan
gangguan dari konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis
bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear, nuklear dan infranuklear. Lesi
supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras
kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan daerah
somatotropik wajah di korteks motorik primer. Karena adanya suatu proses yang
dikenal awam sebagai “masuk angin” atau dalam bahasa inggris “cold”. Paparan
udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca jendela yang
terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bell’s palsy. Karena itu
nervus fasialis bisa sembab, ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan
menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Pada lesi LMN bias terletak di pons, di
sudut serebelo-pontin, di os petrosum atau kavum timpani, di foramen
stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons yang
terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis
medialis. Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan
muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu,
paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif
ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah).
Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell’s palsy adalah
reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang
saraf kranialis. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke
saraf melalui sel satelit. Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum,
nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis
LMN.
Kelumpuhan pada Bell’s palsy akan
terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak
dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada usaha untuk memejam
mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa
diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan.
Karena lagoftalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga
tertimbun disitu.
2.1.6.
KOMPLIKASI
Kira-ki ra
30% pasien Bell’s palsy yang sembuh dengan gejala sisa seperti fungsi motorik
dan sensorik yang tidak sempurna, serta kelemahan saraf parasimpatik.
Komplikasi
yang paling banyak terjadi yaitu disgeusia atau ageusia, spasme nervus fasialis
yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik yang menyebabkan kelenjar
lakrimalis tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi infeksi pada kornea.
2.1.7.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Pemeriksaan Fisis
Kelumpuhan
nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik tetapi yang harus
diteliti lebih lanjut adalah apakah ada penyebab lain yang menyebabkan
kelumpuhan nervus fasialis. Pada lesi supranuklear, dimana lokasi lesi di atas
nukleus fasialis di pons, maka lesinya bersifat UMN. Pada kelainan tersebut,
sepertiga atas nervus fasialis normal, sedangkan dua pertiga di bawahnya
mengalami paralisis. Pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal.
2.
Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada
pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bell’s palsy.
3.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan
radiologi bukan indikasi pada Bell’s palsy. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan jika
dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke, sklerosis
multipel dan AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bell’s palsy akan
menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis, atau pada
telinga, ganglion genikulatum.
2.1.8.
PENATALAKSANAAN
Tujuan
penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan tonus otot wajah dan untuk mencegah
atau meminimalkan denervasi. Klien harus diyakinkan bahwa keadaan yang tejadi
bukan stroke dan pulih dengan spontan dalam 3-5 minggu pada kebanyakan klien.
Terapi
kortikosteroid (prednison) dapat diberikan untuk menurunkan radang dan edema,
yang pada gilirannya mengurangi kompresi vaskuler dan memungkinkan perbaikan
sirkulasi darah ke saraf tersebut. Pemberian awal terapi kortikosteroid
ditujukan untuk mengurangi penyakit semain berat, mengurangi nyeri dan membantu
mencegah atau meminimalkan denervasi.
Nyeri wajah
dikontrol dengan analgesik. Kompres panas pada sisi wajah yang sakit dapat
diberikan untuk meningkatkan kenyamanan dan aliran darah sampai ke otot
tersebut.
Stimulasi
listrik dapat diberikan untuk mencegah otot wajah menjadi atrofi. Walaupun
banyak klien pulih dengan pengobatan konservatif, namun eksplorasi pembedahan
pada saraf wajah dapat dilakukan pada klien yang cenderung mempunyai tumor atau
untuk dekompresi saraf wajah melalui pembedahan untuk merehabilitasi keadaan
paralisis wajah.
Pendidikan
klien, Mata harus dilindungi karena paralisis lanjut dapat menyerang mata.
Sering kali, mata klien tidak dapat menutup dengan sempurna dan refleks
berkedip terbatas sehingga mata mudah diserang binatang kecil dan benda-benda
asing. Iritasi kornea dan luka adalah komplikasi potensial pada klien ini.
Kadang-kadang keadaan ini mengakibatkan keluarnya air mata yang berlebihan
(epifora) karena karatitis yang disebabkan oleh kornea kering dan tidak adanya
refleks berkedip. Penutup mata bagian bawah menjadi lemah akibat pengeluaran
air mata. Untuk menangani masalah ini, mata harus ditutup dengan melindunginya
dari cahaya silau pada malam hari. Potongan mata dapat merusak kornea, meskipun
hal ini juga disebabkan beberapa kerusakan dalam memperthankan mata tertutup
akibat paralisis parsial. Benda-benda yang dapat digunbakan pada mata pada saat
tidur dapat diletakkan diatas mata agar kelopak mata menempel satu dengan yang
lainnya dan tetap menutup selama tidur.
Klien
diajarkan untuk menutup kelopak mata yang mengalami paralisis secara manual
sebelum tidur. Gunakan penutup mata dengan kacamata hitam untuk menurunkan
penguapan normal dari mata. Jika saraf tidak terlalu sensitf, wajah dapat di
masase beberapa kali sehari untuk mempertahankaan tonus otot.tekhnikj untuk
masae wajah adalah dengan gerakan lembut keatas. Latihan wajah seperti
mengherutkan dahi, mengembungkan pipi keluar, dan bersiul dapat dilakukan
dengan menggunakan cermin dan dilakukan teratur untuk mencegah atropi otot.
Hindari wajah terkena udara dingin.
2.2
KONSEP DASAR
KEPERAWTAN
2.2.1. PENGKAJIAN
Pengkajian
keperawatan klien dengan Belll’s palsy meliputi anamnesis riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pengkajian psikososial.
1.
Anamnesis
Keluhan
utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan dalah
berhubungan dengan kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi.
2.
Riwayat penyakit saat ini
Faktor
riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk menunjang keluhan utama
klien. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti
kapan mulai serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien
Bell;s palsy biasanya didapatkan keluhan kelumpuhan otot wajah pada satu sisi.
Kelumpuhan
fasialis ini melibatkan semua otot wajah sesisi. Bila dahi dikerutkan, lipatan
kulit dahinya hanya tampak pada sisi yang sehat saja. Bila klien disuruh
memejamkan kedua matanya, maka pada sisi yang tidak sehat, kelopak mata tidak
dapat menutupi bola mata dan berputarnya bola mata keatas dapat disaksikan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai tanda bell.
3.
Riwayat penyakti dahulu
Pengkajian
penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau
menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami
penyakit iskemia vaskuler, otitis media, tumor intrakranial, truma kapitis,
penyakit virus (herpes simplek, herpes zoster), penyakit autoimun, atau
kombinasi semua faktor ini. Pengkajian pemakaian obat-obatan yang sering digunakan
klien, pengkajian kemana klien sudah meminta pertolongan dapat mendukung
pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk
mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
4.
Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian
psikologis klien Bell’s palsy meliputi beberapa penilaian yang memungkinkan
perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kogniti dan
perilaku klien. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting
untuk menilai respons emosi klien terhadap kelumpuhan otot wajah sesisi dan
perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga atau masyarakat.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul ketakutan akan
kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).
Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien
selama masa stress meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah
kesehatan saat ini yang telah diketahui dan perubahan perilaku akibat stres.
Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak
pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan
dana yang tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi
neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup
individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah, yaitu
keterbatasan yang diakibatkan oleh deficit neurologis dalam hubungannya dengan
peran sosial klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada
gangguan neurologis didalam sistem dukungan individu.
2.2.2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan konsep
diri (citra diri) yang berhubungan dengan perubahan bentuk wajah karena
kelumpuhan satu sisi pada wajah.
2. Cemas yang
berhubungan dengan prognosis penyakit dan perubahan kesehatan.
3. Kurangnya
pengetahuan perawatan diri sendiri yang berhubungan dengan informasi yang tidak
edekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
2.2.3.
INTERVENSI DAN RASIONAL
1.
gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan
bentuk wajah karena kelumpuhan satu sisi pada wajah.
Data penunjang ;
·
Ds: merasa malu karena adanya kelumpuhan otot wajah
terjadi pada satu sisi lain
·
Do: dahi di kerutkan,lipatan kulit dahi hanya tampak
pada sisi yang sehat saja.
Tujuan
:konsep diri klein meningkat
Criteria
hasil :klien mampu menggunakan koping yang
positif
Intervensi
:
a)
Kaji dan jelaskan kepada klien tentang keadaan
paralisis wajahnya
R/ intervensi awal bisa mencegah
disstres psikologi pada klien
b)
Bantu klien menggunakan mekanisme koping yang positif.
R/ mekanisme koping yang positif
dapat membantu klien lebih percaya diri, lebih kooperatif terhadap tindakan
yang akan dilakukan dan mencegah tetjadinya kecemasan tambahan.
c)
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan
aktivitas yang diharapkan.
R/ orientasi dapat menurunkan
kecemasan.
d)
libatkan system pendukung dalam perawatan klien
R/ kehadiran system pendukung
meningkatkan citra diri klien.
2.cemas yang
berhubungan dengan prognosis penyakit dan perubahan kesehatan.
Tujuan
: kecemasan hilang atau berkurang
Criteria hasil
: mengenal perasaannnya, dapat mengidentifikasi
penyebab atau factor yang mempengaruhinya dan menyatakan ansietas
berkurang/hilang.
Intervensi
:
a)
kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingin
klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.
R/ reaksi verbal/non verbal dapat
menunjukkan rasa agitasi, marah dan gelisah.
b)
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan.
Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.R/ mengurangi
rangsangan eksternal yang tidak perlu.
c)
Tingkatkan control sensasi klien.
R/ control sensasi klien (dan dalam
menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien,
menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri),
yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan dan
memberikan respons balik yang positif.
d)
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan
kecemasannya.
R/ dapat menghilangkan ketegangan
terhadap kekhawatiran yang tidak dieksperesikan.
e)
Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat.
R/ memberi waktu untuk
mengeksperesikan perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. Adanya
keluarga dan tewman-teman yang dipilih klien yang melayani aktivitas dan
pengalihan (misalnya membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi.
3. Kurangnya
pengetahuan perawatan diri sendiri yang berhubungan dengan informasi yasng
tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
Tujuan : dalam jangka waktu 1x30
menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman yang adekuat tentang
penyakit dan pengobatannya.
Criteria hasil : klien mampu secara
subjektif menjelaskan ulang secara sederhana terhadap apa yang telah
didiskusikan.
Intervensi :
a)
Kaji kemampuan belajar, tingkatkan kecemasan,
partisipasi, media yang sesuai untuk belajar.
R/ indikasi progresif atau
reaktivasi penyakit atau efek samping pengobatan serta untuk evaluasi lebih
lanjut.
b)
Identifikasi tanda dan gejala yang perlu dilaporkan keperawat.
R/ meningkatkan kesadaran kebutuhan
tentang perawatan diri untuk meminimalkan kelemahan.
c)
Jelaskan instruksi dan informasi misalnya penjadwalan
pengobatan.
R/ mening
d)
katkan kerja sama/ partisipasi terapeutik dan mencegah
putus obat.Kaji ulang resiko efek samping pengobatan.
R/ dapat mengurangi rasa kurang
nyaman dari pengobatan untuk perbaikan kondisi klien.
e)
Dorong klien mengeksperesikan ketidaktahuan/kecemasan
dan beri informasi yang dibutuhkan.
R/ memberikan kesempatan untuk
mengoreksi persepsi yang salah dan mengurangi kecemasan.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Bell’s palsy
atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor neuron akibat
paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit
neurologis lainnya.
3.2
SARAN
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini,
agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Djamil Y, A Basjiruddin.
Paralisis Bell. Dalam: Harsono, ed. Kapita selekta neurologi; Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.2003.
Doengues.1999.rencana
asuhan keperawatan pasien,edisi 3;EGC.jakarta
Muttaqin ,arif
.2008.buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan system persarafan.salemba medika:jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar