EMOSI, STRESS DAN DEPRESI
Erma
Soesilowati, SPsi, Psi
EMOSI
Sebelum kita membahas ke hal emosi, kita tinjau
dulu “apa itu perasaan?”
Perasaan (feeling) dapat mempuyai dua
arti. Secara fisiologis perasaan berarti penginderaan, ia merupakan salah satu
fungsi tubuh untuk mengadakan kontak dengan dunia luar. Dalam arti psikologis
perasaan mempunyai arti menilai, yaitu penilaian terhadap sesuatu hal.
Emosi mempunyai arti yang agak berbeda
dengan perasaan. Didalam pengertian emosi sudah terkandung unsur perasaan yang
mendalam (intense). Emosi dapat timbul dari kombinasi beberapa perasaan. Dengan
kata lain, perasan merupakan bagian dari pada emosi. Emosi merupakan suasana
kesadaran dari individu.
Salah satu teori emosi dikemukakan oleh:
Harvey Cau: “TEORI ORGANIC READJUSMENT”: artinya emosi
adalah penyesuaian organis yang timbul secara otomatis pada manusia/ individu
dalam menghadpi situasi-situasi tertentu, misal:
Emosi marah timbul jika organisme
dihadapkan rintangan yang menghambat kebebasannya untuk bergerak, sehingga
semua tenaga dan daya dikerahkan untuk mengatasi rintangan itu dengan dirinya,
ditandai oleh gejala-gejala seperti denyut jantung yang meninggi, pernapasan
semakin cepat, dan sebagainya.
Emosi akan mudah dikenal dan dirumuskan hanya
dalam hubungan dengan situasi dimana emosi itu timbul, misalnya:
Emosi takut, karena situasi yang dihadapi
berbahaya
Emosi terkejut, karena situasinya datang
dengan tiba-tiba
Menurut JB. Watson, menyatakan bahwa pada manusia
(pada anak kecil) mempunyai 3 (tiga) emosi
dasar:
- Takut, yang dalam perkembangan selanjutnya bisa menjadi cemas
- Kemarahan, akan berkembang antara lain menjadi marah
- Cinta, yang akan berkembang menjadi simpati
Aspek-aspek emosi
(CT. Morgan)
- Emosi adalah sesuatu yang sangat erat hubungannya dengan kondisi tubuh misalnya: denyut jantung, sirkulasi darah dan pernapasan
- Emosi adalah sesuatu yang dilakukan atau diekspresikan, misal: tertawa, tersenyum, menangis
- Emosi adalah sesuatu yang dirasakan, misal: jengkel, kecewa, senang
- Emosi juga merupakan suatu motif, sebab mampu mendorong individu untuk berbuat sesuatu kalau individu beremosi senang. Kalau tidak senang maka tidak akan melakukan sesuatu.
Beberapa hal yang harus
diketahui tentang emosi :
1.
Kita masing-masing berbeda dalam kemampuan dan kemauan
untuk membicarakan emosi kita dengan orang lain. Hal ini sangat tergantung
dengan factor lingkungan, budaya, pola asuh orang tua, pengalaman dll
2.
Banyak orang memandang emosi seperti rasa marah,
bersalah, rasa malu, iri dan benci
sebagai emosi yang negative. Rata-rata orang lebih suka menyatakan hanya
rasa gembira dan cinta saja, sedangkan rasa yang dianggap negative disimpan
saja. Aduuh capek dech …….
3.
Akan lebih baik kita berusaha untuk menemukan seseorang
yang bijaksana dan care yang siap untuk mendengarkan emosi yang kita alami.
Kita bebas memilih kapan kita ingin mengungkapkannya dan kapan tidak, supaya
emosi-emosi itu dapat dimanfaatkan untuk membahagiakan hidup kita. Ingat
tentang asertif ……
4.
Kita nich mahluk sosial, kita butuh orang lain. Kalau
kita dapat menyatakan emosi kita kepada orang yang kita cintai (sahabat, ortu,
guru dll), maka kita akan mengalami hubungan erat dengannya.
5.
Penelitian Ilmiah membuktikan bahwa kalau kita dapat
bersikap terbuka dan assertif terhadap lingkungan, maka kita akan terhindar
dari stress/depresi.
6.
Cara berpikir
bisa membantu kita mempergunakan emosi dengan baik. Perasaan yang tidak
enak/negative sering berasal dari pemikiran yang salah tentang suatu masalah,
atau salah pengertian terhadap sikap orang lain kepada kita.
STRESS
Salah satu masalah yang pasti akan
dihadapi oleh setiap orang dalam kehidupan adalah stress. Stress ini harus
diatasi, baik oleh individu itu sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
Stress merupakan kondisi ketegangan yang
berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang.
Stress yang tidak dapat diatasi dengan
baik, biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang berinteraksi secara
positif dengan lingkungannya. Berbagai gejala tersebut pada umumnya timbul
sebagai perilaku yang tidak “normal”: gugup, tegang selalu cemas, gangguan
pencernaan, tekanan darah tinggi. Pengaruh gejala-gejala tersebut dapat
terlihat pada kondisi mental tertentu: minum-minuman keras, merokok berlebihan,
sulit tidur, sikap tidak bersahabat, putus asa, mudah marah, sukar
mengendalikan emosi dan bersifat agresif.
Stress
memang tidak terletak di luar diri, tetapi didalam diri kita, walaupun dampak
stress sering menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan, namun tidak semua
stress buruk. Tingkat stress yang rendah kita butuhkan sebab ini penting untuk
kita bertahan hidup dan aktif. Stress dapat membuat individu waspada, menjadi
penggerak positif. Sampai pada tingkat stress
tertentu, kesehatan dan prestasi dapat menanjak disebut stress sehat/ eustress.
Diluar kondisi ini justru kesehatan dan prestasi semakin memburuk disebut
stress berbahaya/ distress.
SUMBER STRESS (STRESSOR) PSIKOSOSIAL
Stressor psikososial adalah setiap
keadaan/ peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang (anak,
remaja atau dewasa), sehingga orang itu harus mengadakan adaptasi/
menanggulangi stressor yang timbul. Namun tidak semua orang mampu
mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbullah
keluhan-keluhan kejiwaan. Jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai
berikut:
a) Perkawinan : pertengkaran, perpisahan,
perceraian, ketidaksetiaan, kematian salah satu pasangan dan lain-lain.
b) Problema orang tua: tidak punya anak/
kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit dan lain sebagainya.
c) Hubungan interpersonal (antar pribadi):
konflik dengan kekasih/ teman/ atasan/ bawahan dan lain sebagainya.
d) Pekerjaan: mutasi, pekerjaan tidak cocok,
pensiun, PHK, pekerjaan terlalu banyak, dan lain-lain.
e) Lingkungan hidup: kondisi lingkungan yang
buruk bagi kesehatan, penggusuran, lingkungan yang rawan kriminal dan lain-lain
f) Keuangan: terlibat hutang, pendapatan
rendah dan lain-lain
g) Hukum: pengadilan, penjara dan lain-lain
h) Perkembangan fisik/ mental: pada masa
anak-anak, masa remaja,
menopause dan lain-lain
i)
Penyakit
fisik atau cedera
j)
Faktor
keluarga: kondisi keluarga yang tidak baik, dan lain-lain
k) Lain-lain: bencana alam, kelaparan,
perkosaan, kehamilan diluar nikah dan lain-lain.
Sumber stress
mungkin bisa membuat stress yang berat terhadap seseorang, namun belum tentu
bagi orang lain. Berarti sifat stress itu sendiri sangat individual. Model
kepribadian yang rentan mengalami stress antara lain :
- Orang yang segala sesuatunya ingin sempurna, sangat hati-hati, takut akan penilaian orang lain.
- Orang yang kecanduan kerja.
- Orang yang terlalu ambisius.
- Orang yang kaku dalam proses berpikir.
- Orang yang impulsive.
Gejala-gejala
Psikofisiologis :
Gejala
Psikis, antara lain :
·
Sukar konsentrasi
·
Tidak bersemangat
·
Lekas marah
·
Ketakutan tanpa seba
Gejala-gejala Fisiologis, antara
lain :
·
Lambung mual
·
Dada terasa tertekan
·
Ketegangan otot di daerah T
·
Wajah tampak kusut
TAHAPAN STRESS :
Menurut Dr. Robert J. Van Amberg (psikiater)
1. Stress tahap 1
Tahapan ini merupakan tingkat
stress yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan
sebagai berikut:
a. Semangat besar
b. Penglihatan tajam, tidak sebagaimana
biasanya
c. Energi dan gugup berlebihan, kemampuan
menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya
Tahapan ini biasanya
menyenangkan dan orang lain
bertambah semangat, tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang
menipis
2. Stress tahap II
Dalam tahapan ini dampak
stress yang menyenangan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan
cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan yang sering
dikemukakan, sebagai berikut:
a. Merasa letih sewaktu bangun pagi
b. Merasa lelah sesudah makan siang
c. Merasa lelah menjelang sore hari
d. Terkadang gangguan pada sistem pencernaan
(gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang pula jantung berdebar-debar.
e. Perasaan tegang pada otot-otot punggung
dan tengkuk (belakang leher)
f. Perasaan tidak bisa santai.
3. Stress tahap III
Pada tahapan ini
keluhan-keluhan semakin nyata/ semakin mengganggu dan sering dikemukakan,
antara lain:
a. Gangguan perut bertambah: maag, diare, dll
b. Ketegangan otot bertambah
c. Emosional semakin tegang/ tidak tenang
d. Insomnia/ gangguan pola tidur
e. Koordinasi tubuh terganggu (oyong atau
serasa mau pingsan)
Tahapan ini individu/ pasien:
- Sudah harus istirahat/ konsultasi ke dokter
- Sering dikatakan dokter tidaka ada penyakit, karena tidak ditemukan kelainan fisik
- Bila dipaksakan terus akan masuk tahap IV
4. Stress tahap IV
Pada tahap ini, energi tidak
cukup lagi
untuk mengatasi keadaannya, keluhan-keluhan dan situasi individu, antara lain:
- Sulit bertahan sepanjang hari
- Pekerjaan menjadi beban berat dan sulit
- Respon tidak sesuai/tidak memadai
- Kegiatan rutin tidak mampu lagi
- Gangguan tidur dan banyak mimpi tegang
- Menolak ajakan karena tak bergairah
- Daya ingat dan konsentarasi menurun
- Timbul rasa takut/ cemas tanpa sebab
Bila pada tahap ini dibiarkan/
tidak mendapat penanganan, maka akan meningkat ke tahap V
5. Stress tahap V
Merupakan tahap menjelang
klimaks, dengan keluhan-keluhan semakin nyata, antara lain:
- Kelelahan fisik dan mental semakin dalam
- Tak mampu mengerjakan hal ringan/ sederhana
- Gangguan perut semakin berat
- Cemas/ takut tambah besar sampai bingung/ panik
6. Stress tahap VI
Merupakan tahapan klimaks
dengan keluhan-keluhan antara lain:
- Jantung berdebar keras
- Sesak/ megap-megap, badan gemetaran, keringat bercucuran, dingin
- Hilang tenaga sampai pingsan/ kolaps.
Serangan hebat dengan panik/ takut mati sampai
harus di gotong ke UGD/ICCU tetapi akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan
kelainan fisik organ tubuh.
MANAJEMEN STRESS
Stress dapat dikelola, dengan
pengelolaan yang baik stress dapat dihindari atau bahkan dimanfaatkan sehingga
menimbulkan dampak yang positif.
- Who Am I ?
Kita harus memahami betul gejala
psikofisiologis apa yang yang timbul ketika stress.
- Melakukan coping (upaya untuk mengatasi) yang berfokus pada emosi.
Coping tersebut dapat mengurangi berbagai
reaksi emosional negative terhadap
stressor/sumber stress Contoh :
relaksasi, istirahat, rekreasi
- Melakukan coping yang berfokus pada masalah.Dengan cara bertindak langsung untuk mencari stressor/sumber stress dan mengatasi masalah/mencari informasi yang dipergunakan unuk menetapkan jalan keluar.
Coping tersebut,
antara lain :
1.Mengatur waktu
:
-
Susun prioritas waktu di jadual rencana kerja
-
Perhatian dipusatkan pada kegiatan yang sedang dihadapi
-
Kerjakan segalanya satu persatu, bukan beberapa hal
sekaligus
-
Bekerjalah dengan kecepatan yang nyaman
-
Tinjau ulang skema kegiatan, dan untuk sasaran yang
belum tercapai jadualkan kembali.
2.Mengcounter pikiran negative menjadi
pikiran positif
Berpikir
positif bukan berpiir apa yang membuat anda sedih, melainkan anda berpikir
tentang apa yang terjadi.
3.Pace maker
Target jangka
panjang, dibagi menjadi beberapa target pendek.
Dan lain-lain.
UPAYA PENINGKATAN KEKEBALAN TERHADAP STRESS
:
1.
Makanan yang berimbang
2.
Tidur/istirahat yang cukup
3.
Olahraga teratur
4.
Hindari rokok
5.
Hindari minuman keras
6.
Berat badan seimbang
7.
Pergaulan yang baik
8.
Mengatur waktu
9.
Kegiatan agama
10. Rekreasi
11. Pengelolaan
keuangan
12. Kasih
sayang
13. Relaksasi,
meditasi, yoga, doa dan dzikir
DEPRESI
Salah satu bentuk stress yang dapat
menimbulkan gangguan kejiwaan adalah depresi.
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan
kejiwaan pada alam perasaan (afektif, mood) yang ditandai dengan kemurungan,
kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan
lain-lain. Secara lengkap gambaran depresi adalah:
- Afek disforik yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tiada semangat, dan merasa tidak berdaya
- Perasaan bersalah/ berdosa, penyesalan
- Nafsu makan menurun
- Berat badan menurun
- Konsentrasi dan daya ingat menurun
- Gangguan tidur: insomnia (sukar/ tidak dapat tidur), atau sebaliknya hipersonmia, terlalu banyak tidur. Hal ini sering kali disertai mimpi-mimpiyg tidak menyenangkan
- Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah/ lemah tak berdaya)
- Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka melakukan hobi, kreatifitas menurun
- Gangguan seksual
- Pikiran-pikiran tentang kematian, bunuh diri
HUBUNGAN
STRESS DAN DEPRESI
Stress merupakan
suatu kekuatan pendorong terjadinya depresi :
- Stress dapat mengacaukan neurotransmitter otak ( system kompleks para pesuruh kimia yang menjaga keseimbangan dan kesadaran otak ). Dalam kondisi stress adrenalin mengeluarkan kelompok hormone, salah satunya kortisol (untuk membantu kita menghadapi stress). Hal ini merupakan jasa darurat untuk jangka pendek saja. Akan tetapi dalam jangka panjang, hormone ini justru akan menghambat reseptor dan neurotransmitter lainnya : GABA (yang membantu kita tetap tenang), sehingga akan terjadi kekurangan Gaba. Kondisi ini menyebabkan kecemasan yang parah/mengacaukan keseimbangan halus neurotransmitter ( Depresi ).
- Stress yang berkepanjangan bisa menghabiskan persediaan adrenalin, sehingga keadaan daruratnya menurun/kesiagaannya menghadapi stress turun. Sistem adrenalin ini membutuhkan waktu untuk pemulihan. Recoveri adrenalin banyak menghabiskan energy yang ada. Keadaan ini dinamakan depresi pasca adrenalin ( mudah marah, tidak bersemangat ).
- Stress berkepanjangan bisa menghabiskan kekuatan emosional dan mental untuk menangani tuntutan kehidupan. Daya tahan kita menjadi menurun, sehingga hal-hal kecil menimbulkan respon yang berlebihan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar