ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS OTITIS MEDIA AKUT
(OMA)
(OMA)
DISUSUN OLEH KELOMPOK
2 :
ü ANATRISNANI
ü M.KHOIRUL MUKMIN
ü MEIDAWATI
ü NOPA LESPIANAH
ü UTARI UMAIROH
DOSEN PEMBIMBING :
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG TAHUN
2013
KATA
PENGANTAR

Assalamualaikum,Wr.Wb.
Alhamdullilah kita
panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat rahmat dan
karunia-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan
tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi
besar Muhammad SAW, beserta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga
akhir zaman. Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga
kita dapat menikmati indahnya keimanan dan Islam.
Alhamdulillah kami
dapat menyelesaikan tugas makalah
Asuhan Keperwatan PAda
Pasien Otitis Media Akut (OMA)
ini, yang diberikan kepada kami sebagai tugas pembelajaran
mata kuliah Persepsi Sensori.
Dalam penulisan
dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk
itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang
akan datang.
Akhir kata semoga makalah
ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Palembang, Maret 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I – PENDAHULUAN ..................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan .......................................................................................... 2
BAB
II - TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 3
2.1 Pengertian..................................................................................... 3
2.2 Anatomi Fisiologi......................................................................... 3
2.3 Etiologi ........................................................................................ 9
2.4 Manifestasi Klinis ........................................................................ 9
2.5 Patofisiologi ................................................................................. 10
2.6 Patoflow....................................................................................... 12
2.7 Penatalaksanaan ........................................................................... 13
2.8 Komplikasi.................................................................................... 14
BAB III - ASUHAN KEPERAWATAN ................................................ 16
BAB IV
- PENUTUP ................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Otitis Media
adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media
berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif, yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan lambat.
Sebagaimana
halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media
juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat,
diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum
usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau
lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum
usia sepuluh tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada
usia 3-6 tahun. Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa
karena beberapa hal : sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek
sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. Adenoid (adenoid: salah
satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada
anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan
dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu
terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di
mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius.
Di
daerah-daerah, penyakit ini sering kali tidak terlalu di perhatikan.Jika di
tinjau dari faktor resiko masalah ini akan mudah berkembang.faktor resiko
penyakit ini antara lain hidup dalam kondisi yang penuh sesak, kehadiran
fasilitas daycare dan menjadi anggota sebuah keluarga yang besar. Jika dilihat
dari faktor resikonya maka penyakit ini akan bias berkembang luas.
I.2 Tujuan
1.2.1
Tujuan umum :
Setelah
dilakukan diskusi diharapkan mahasiswa memahami tentan otitis media akut
1.2.2
Tujuan
khusus :
1. Mahasiswa memahami tentang konsep penyakit OMA (otitis
media akut ):
a.
Definisi OMA
b.
Anatomi Fisiologi OMA
c.
Etiologi OMA
d.
Patofisiologi dan Patoflow
OMA
e.
Manifestasi/tanda dan
gejala OMA
f.
Pemeriksaan Penunjang
g.
Penatalaksanaan
h.
Komplikasi
2.
Mahasiswa mampu
memahami tentang asuhan keperawatan otitis media akut (OMA) :
a.
Pengkajian keperawatan
OMA
b.
Diagnose keperawatan
OMA
c.
Intervensi dan
rasionalisasi OMA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 PENGERTIAN OMA
Otitis
Media Akut, adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau
tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya
dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri
pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme
pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan
bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.
Gambar
1.1 otitis media akut
Otitis
media akut terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba
eustachius merupakan factor penyebab pertama dari otitis media. Infeksi saluran
napas atau juga factor pencetus terjadinya OMA. Pada bayi terjadi OMA
dipermudah oleh tuba eustachius lebih pendek, lebar dan agak horizontal
letaknya.
2.2
Anatomi
Fisiologi Sistem Pendengaran; Telinga
2.2.1
Anatomi
Sistem Pendengaran
Telinga
adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini adalah syaraf cranial
ke delapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari 3 bagian, yaitu:
telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam
.
1. Telinga Luar
1. Telinga Luar
Telinga
luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius eksternus,
dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan
membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala
kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan
tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada
lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya
sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius
eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan
meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup
mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter.
Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit
terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis.
Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal
mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi
seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga
mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya
mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.
2.Telinga Tengah
Telinga
tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes.
Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang
membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial
telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian
dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah.
Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh
membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis,
atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah
mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami
kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.
Tuba
eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan
telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka
akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap
atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan
tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.
3. Telinga Dalam
Telinga
dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran
(koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII
(nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan
bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun
tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak
membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan
dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan
kecepatan dan arah gerakan seseorang.
Koklea
berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah
lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ
Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin
membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan
langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis.
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis,
duktus koklearis, dan organan Corti.
(Anatomi
dan Fisiologi untuk paramedic. Pearce, C Evelyn. 2002)
2.2.2
Fisiologi
Pendengaran
Suara
ditimbulkan akibat getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara, yang
kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara yang bergerak melalui
rongga telinga luar yang menyebabkan membrane timpani bergetar. Getaran-getaran
tersebut selanjutnya diteruskan menuju inkus dan stapes, melalui maleus yang
terkait pada membran itu. Karena gerakan-gerakan yang timbul pada setiap tulang
ini sendiri, tulang-tulang itu memperbesar getaran, yang kemudian diaslurkan
melalui fenestra vestibular menuju perilimfa. Getaran perilimfa dialihkan
melalui membran menuju endolimfa dalam saluran koklea, dan rangsangan mencapai
ujung-ujung akhir saraf dalam organ Corti, untuk kemudian diantarkan menuju
otak oleh nervus auditorus.
Membran
timpani pada tingkap bulat bergerak bebas sebagai katup pengaman dalam
pergerakan cairan ini, yang juga menggerakkan duktus koklearis dan membran
basilarisnya. Membran basilaris pada basis koklea peka terhadap bunyi
berfrekuensi tinggi, sedangkan bunyi berfrekuensi rendah lebih diterima pada
bagian lain dari duktus koklearis.
Perasaan-pendengaran
ditafsirkan otak sebagai suara yang enak atau tidak enak, ingar-bingar atau
musikal. Istilah-istilah ini digunakan dalam artinya yang seluas-luasnya.
Gelombang suara yang tak teratur menghasilkan keributan atau keingarbingaran,
sementara gelombang suara berirama teratur menghasilkan bunyi musikal enak.
Suyara merambat dengan kecepatan 343 meter per detik dalam udara tenang, pada
suhu 15,5º C.
2.3 Stadium Otitis
Media Akut
Terdapat
5 Stadium otitis media akut yaitu :
ü Stadium Oklusi Tuba
Eustachius
Stadium
oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh
retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena
terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang
tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi. Stadium oklusi
tuba Eustachius dari otitis media akut
sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan
virus dan alergi.
ü Stadium Hiperemis (Pre
Supurasi)
Stadium
hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani
yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya
sekret eksudat serosa yang sulit terlihat
ü Stadium Supurasi
Stadium
supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu
edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur.
Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah
liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat
dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa
tidur nyenyak.
Stadium
supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan
ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran
timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis
ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani
karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat
tromboflebitis vena-vena kecil.
Keadaan
stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil
ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah
akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada
membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup
kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani
tidak utuh lagi.
ü Stadium Perforasi
Stadium
perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah
yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini
sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya
virulensi kuman.Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu
menurun dan bisa tidur nyenyak.
Jika
membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap
berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media
supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih
1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media kronik.
ü Stadium Resolusi
Stadium
resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran
timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini
berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan
virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai
mengering.
Apabila
stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi
dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis
media supuratif akut dapat menimbulkan
gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi
jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.
2.4 Etiologi Otitis Media Akut
Penyebab
otitis media akut dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien, tidak
ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama
bakteri. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem
pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor
utama terjadinya otitis media, pada anak semakin seringnya terserang infeksi
saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin
sering.
Bakteri
penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh
Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA,
walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang
membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran
Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran
lendir. Faktor pencetus terjadinya otitis media supuratif akut (OMA),
yaitu :
2.5 Manifestasi klinis
Otitis Media Akut
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan
usia pasien, pada usia anak – anak umumnya keluhan berupa :
- rasa nyeri di telinga dan demam.
- Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
- Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penih.
- Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit
2.6 Patofisiologi Otitis Media Akut
Otitis
media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius.
Saat
bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran
tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya
saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah
putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai
hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan
jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel
di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika
lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang
telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ
pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran
yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).
Namun cairan yang lebih banyak dapat
menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan
normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.1 Dan yang paling berat,
cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga
karena tekanannya.
Setelah
itu akan muncul masalah yaitu nyeri telinga,demam,pada orang dewasa biasanya
terjadi gangguan pendengaran,telinga terasa perih.Pada anak-anak biasanya
timbul masalah susah tidur,terkadang tiba-tiba menjerit dan kejang-kejang.
Setelah timbul masalah-masalah
seperti dia atas,untuk intervensi keperawatannya yaitu segera kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian obat penghilang nyeri dan demam,Pada anak yang susuh
tidur,berikan suasana yang nyaman,dan membuatnya nyaman.
2.7.
Patoflow
|
|
![]() |
|||
![]() |
|||
2.8 Penatalaksanaan
Serumen
dapat diambil denga irigasi, pengisapan, atau instrumentasi. Kecuali bila
riwayat perforasi membrana timpani atau terdapat inflamasi telinga luar (otitis
eksterna), irigasi lembut kan prosedur yang dapat diterima untuk mengambil
serumen.
Teknik
ini efektif bila serumen tidak terlalu melekat dalam kanalis auditorius eksteni
Pengambilan serumen yang berhasil dengan irigasi ha bisa dicapai bila aliran
air dapat mencapai bela serumen yang menyumbat agar dapat mendorongnya lateral
dan ke luar dari kanalis. Meskipun irrigator pic air biasanya aman, namun
instrumen ini berhubungan den perforasi membrana timpani dan bahkan cedera
otologik yang lebih serius. Maka harus digunakan tekanan serdah mungkin yang
digunakan untuk mencegah trail mekanik
Bila
sebelumnya sudah terdapat perforasi membran timpani di belakang impaksi
serumen, air dapat mema ruang telinga tengah. Masuknya air dingin ke da telinga
tengah dapat mengakibatkan vertigo akut dengan cara menginduksi arus konveksi
termal dalam kanalis semi sirkularis.
Memasukkan
air ke dalam rongga teli tengah dapat juga meningkatkan risiko infeksi. Irigasi
kanalis juga terbukti mengakibatkan otitis eksterna: na (osteomielitis tulang
temporal) pada manula pende diabetes. Bila harus melakukan irigasi aural pada
penderita diabetes, harus digunakan larutan steril.
Bila
irigasi ti berhasil sempurna atau bila impaksi serumen tidak purna, maka dapat
dilakukan pengangkatan secara mekanis, dengan pandangan langsung pada pasien
yang koope-ratif oleh tenaga profesional yang terlatih.
Serumen
juga dapat dilunakkan dengan meneteskan beberapa tetes gliserin hangat, minyak
mineral, atau hidrogen peroksida perbandingan setengah selama 30 menit sebelum
pengangkatan. Bahan seruminolitik, seper-ti peroksida dalam gliseril (Debrox)
atau Cerumenex juga tersedia; namun, senyawa ini dapat menyebabkan reaksi
alergi dalam bentuk dermatitis.
Pemakaian
larutan ini dua sampai tiga kali sehari selama beberapa hari biasanya sudah mencukupi
untuk memudahkan pengangkatan im-paksi. Bila impaksi serumen tak dapat
dilepaskan dengan cara ini, dapat diangkat oleh petugas perawatan kesehatan
dengan instrumen khusus seperti kuret serumen dan pengisap aural yang
menggunakan mikroskop binokuler untuk pembesaran.
- PENATALAKSAAN MEDIS
- Pengobatan stadium awal di tujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas dengan pemberian antibiotic, dekongestan local atau sistemik dan antipireutik.
- Pada anak di berikan ampisilin 4x50-100 mg/ kg BB, amoksisilin 4x40 mg/ kg BB/ hari, atau eritromisin 4x40 mg/ kg BB/ hari.
- Berikan obat tetes HCL efedrin 0,5% (anak <12 tahun), HCL efedrin 1% dalam larutan fisiologis (anak >12 tahun dan dewasa).
- Lakukan miringotomi.
- Berikan obat cuci telinga H2O2 3%
selama 3-5 hari serta antibiotic yang adekuat sampai 3 minggu.
(Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)
2.9 Komplikasi
- Abses subperiosteal
- Abses otak
- Meningitis
- OMSK (Otitis Media Supuratif
Kronik)
(Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)
2.10 Pencegahan
Beberapa hal
yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
- Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
- Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
- Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
- Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
- Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.
2.11
Pemeriksaan Penunjang
- Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak dan tidak tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.
- Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui organisme penyebab.
BAB III
ASKEP OTITIS MEDIA
AKUT
3.1 Pengkajian
- Riwayat kesehatan
Kaji riwayat kesehatan sekarang, kapan keluhan mulai
berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau
berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat
apa yang digunakan, adakah keluhan seperti pilek dan batuk.
Kaji riwayat kesehatan masa lalu. Apakah ada kebiasaan
berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan, berapa lama,
pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga,
keadaan lingkungan tenan, daerah industri, daerah polusi), apakah riwayat pada
anggota keluarga.
- Pengkajian fisik
- Kaji tanda – tanda vital yaitu nadi, RR, suhu, dan tekanan darah
- Kaji apakah pasien mengalami Sakit telinga/nyeri
- Kaji apakah pasien mengalami penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
- Kaji apakah pasien mengalami tinnitus
- Kaji apakah pasien mengalami perasaan penuh pada telinga
- Kaji apakah pasien merasakan suara bergema dari suara sendiri
- Kaji apakah pasien mengalami bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
- Kaji apakah pasien mengalami Vertigo, pusing, gatal pada telinga
- Kaji apakah pasien menggunakan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
- Kaji apakah pasien Penggunana obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)
- Kaji tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam
- Kaji kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
- Kaji apakah pasien mengalami reflek kejut
- Kaji toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
- Kaji tipe warna 2 jumlah cairan
- Kaji cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
- Kaji tentang alergi pasien
- Kaji dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram
- Kaji Sistem Pencernaan apakah pasien mengalami anoreksia, mual, muntah dan BB menurun.
- Kaji Sistem musculoskeletal pasien,apakah pasien mengalami kelemahan
- Kaji Sistem Pernafasan pasien apakah terjadi perubahan pada pola dan frekuensi pernafasan.
- Kaji Sistem Kardiovaskuler, apakah pasien mengalami tekanan darah menurun, dan nadi cepat
- Pengkajian Psikososial
- Kaji Nyeri otore apakah berpengaruh pada interaksi
- Kaji Aktifitas pasien
- Kaji perasaan takut menghadapi tindakan pembedahan
- Pemeriksaan pendengaran
- Lakukan tes suara bisikan
- Lakukan tes garputala
3.2 Diagnosa
Keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
2.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
3.
Resiko tinggi injury berhubungan dengan
penurunan persepsi sensori
4.Perubahan
persepsi sensori, auditorius berhubungan dengan gangguan penghantaran bunyi.
5.
Ansietas berhubungan dengan nyeri yang terjadi
3.3 Intervensi dan
rasionalisasi
- Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
Tujuan
: Nyeri berkurang atau hilang
- Intervensi :
- Beri posisi nyaman
Rasionalisasi :
dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri.
- Kompres panas di telinga bagian luar
Rasionalisasi :
untuk mengurangi nyeri
- Kompres dingin
Rasionalisasi :
untuk mengurangi tekanan telinga (edema)
- Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotic
Rasionalisasi :
untuk mengurangi dan menghilangkan nyeri
- Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
Tujuan
:Tidak terjadi tanda-tanda infeksi
·
Intervensi
:
- Jaga kebersihan pada daerah liang telinga
Rasionalisasi :
untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme.
- Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa/terlalu keras (sisi)
Rasionalisasi : untuk menghindari transfer organisme dari
tuba eustacius ke telinga tengah.
- Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasionalisasi :
untuk mencegah terjadinya infeksi.
- Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori
Tujuan
: Tidak terjadi injury atau perlukaan
- Intervensi :
- Pegangi pasien saat beraktivitas
Rasionalisasi : meminimalkan pasien agar tidak jatuh
- Pasang restraint pada sisi tempat tidur
Rasionalisasi : meminimalkan agar pasien tidak jatuh.
- Jaga pasien saat beraktivitas
Rasionalisasi :
meminimalkan pasien agar tidak jatuh
- Perubahan persepsi sensori, auditorius berhubungan dengan gangguan penghantaran bunyi
Tujuan :
Komunkasi terjalin baik
- Intervensi :
- Jaga lingkungan dari kegaduhan
Rasionalisasi :
Agar saat berkomunikasi dengan pasien tidak terganggu
- Pandang pasien saat berbicara
Rasionalisasi :
dapat membantu pasien untuk mengerti maksut pembicaraan perawat
- Gunakan komunikasi non verbal
Rasionalisasi :
Membantu pasien untuk mengerti maksut pembicaraan perawat
- Gunakan alat bantu pendengaran
Rasionalisasi :
Komunikasi berjalan lancar
- Ansietas berhubungan dengan nyeri yang terjadi.
Tujuan :
Ansietas
berkurang
- Intervensi :
- Bina hubungan terapeutik
Rasionalisasi :
Pasien merasa nyaman dengan perawat
- Alihkan perhatian pasien sehingga ansietas berkurang
Rasionalisasi :
Supaya pasien tidak terfokus dengan nyeri yang sedang dialami
- Kaji tingkat ansietas pasien
Rasionalisasi :
Untuk memonitor tingkat nyeri pasien
- Berikan lingkungan yang nyaman
Rasionalisasi :
Supaya pasien merasa nyaman dan ansietas tidak bertambah
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Otitis
Media Akut, adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau
tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya
dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri
pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme
pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh enzim pelindung dan
bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.
4.2 Saran
4.2.1 Diharapkan untuk mahsiswa
keperawatan setelah membaca askep ini bias membantu untuk memberikan asuhan keperawatan yang
baik untuk pasien dengan otitis media akut ini..
4.2.2 Diharapkan untuk
STIKES/lembaga kesehatan setelah membaca asuhan keperawatan ini dapat
menciptakan lulusan-lulusan yang berkhualitas dalam memberikan asuhan
keperawatan.
4.2.3 Diharapkan untuk pembaca
setelah membaca asuhan keperawatan ini dpat mengetahui apa penyakit otitis
media akut dan cara pencegahan serta asuhan keperawatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ø http://tutorialkuliah.wordpress.com/2008/12/12/water-seal-drainage-wsd/, Diakses 23 Maret 2013 jam
21.22 WIB
Ø Anonymous. 2008.
www.contoh-askep.blogspot.com , Diakses pada 23 Maret2013 Jam 21.16 WIB
Ø Anonymous. 2008.
www.asuhan-keperawatan-patriani.blogspot.com , Diakses 23 Maret 2013 Jam 21.27
WIB








Tidak ada komentar:
Posting Komentar