Powered By Blogger

Kamis, 11 April 2013

Askep OMA


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS OTITIS MEDIA AKUT
(OMA)

Description: 49144_100000072527669_4188_n


DISUSUN OLEH KELOMPOK 2 :
ü  ANATRISNANI
ü  M.KHOIRUL MUKMIN
ü  MEIDAWATI
ü  NOPA LESPIANAH
ü  UTARI UMAIROH

DOSEN PEMBIMBING :                                                   
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG TAHUN
2013



KATA PENGANTAR
Assalamualaikum,Wr.Wb.
Alhamdullilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman. Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati indahnya keimanan dan Islam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas makalah Asuhan Keperwatan PAda Pasien Otitis Media Akut (OMA) ini, yang diberikan kepada kami sebagai tugas pembelajaran mata kuliah Persepsi Sensori.
Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Palembang,    Maret 2013


Penulis,










DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................       i
DAFTAR ISI .............................................................................................      ii
BAB I – PENDAHULUAN .....................................................................      1
1.1 Latar Belakang ............................................................................      1
1.2 Tujuan ..........................................................................................      2
BAB II - TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................      3
2.1 Pengertian.....................................................................................      3
2.2 Anatomi Fisiologi.........................................................................      3
2.3 Etiologi ........................................................................................      9
2.4 Manifestasi Klinis ........................................................................      9
2.5 Patofisiologi .................................................................................      10
2.6 Patoflow.......................................................................................      12
2.7 Penatalaksanaan ...........................................................................      13
2.8 Komplikasi....................................................................................      14
BAB III - ASUHAN KEPERAWATAN ................................................      16
BAB IV - PENUTUP ................................................................................      22
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN
1.1            LATAR BELAKANG
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif,  yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan lambat.
Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat,  diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun. Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal : sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan. Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Di daerah-daerah, penyakit ini sering kali tidak terlalu di perhatikan.Jika di tinjau dari faktor resiko masalah ini akan mudah berkembang.faktor resiko penyakit ini antara lain hidup dalam kondisi yang penuh sesak, kehadiran fasilitas daycare dan menjadi anggota sebuah keluarga yang besar. Jika dilihat dari faktor resikonya maka penyakit ini akan bias berkembang luas.

I.2 Tujuan
            1.2.1 Tujuan umum              :
Setelah dilakukan diskusi diharapkan mahasiswa memahami tentan otitis media akut
1.2.2        Tujuan khusus          :
1. Mahasiswa memahami tentang konsep penyakit OMA (otitis media akut ):
a.       Definisi OMA
b.      Anatomi Fisiologi OMA
c.       Etiologi OMA
d.      Patofisiologi dan Patoflow OMA
e.       Manifestasi/tanda dan gejala OMA
f.       Pemeriksaan Penunjang
g.      Penatalaksanaan
h.      Komplikasi

2.      Mahasiswa mampu memahami tentang asuhan keperawatan otitis media akut (OMA) :
a.       Pengkajian keperawatan OMA
b.      Diagnose keperawatan OMA
c.       Intervensi dan rasionalisasi OMA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1   PENGERTIAN OMA
Otitis Media Akut, adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong  dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.




Gambar 1.1 otitis media akut
Otitis media akut terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab pertama dari otitis media. Infeksi saluran napas atau juga factor pencetus terjadinya OMA. Pada bayi terjadi OMA dipermudah oleh tuba eustachius lebih pendek, lebar dan agak horizontal letaknya.

2.2  Anatomi Fisiologi Sistem Pendengaran; Telinga
2.2.1        Anatomi Sistem Pendengaran
Telinga adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini adalah syaraf cranial ke delapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari 3 bagian, yaitu: telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHUTGqB7FrhhBe7FkZ_pgw5AS9ijIFmbQ79WMo9tRm0p9AMTgKwHOBJE4IcRXbrStwO5_39E5jmtHvc8R5AJizlAD36VaEksF71jAK4p4oMWyV2IHxovSLMca1oHrGRrII2yW1f2M9m5Dc/s320/asuhan-+keperawatan-oma-otitis-media-akut.jpgDescription: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNN0GjtY653eiIzoKCQFRTTKz5mZSYmj4Ep79ag29xYdMqk1iKVsxcKPDju6JPF9hp2BT2ZB7863r0jkPbeB0n7pyt_Vq2dBKMlyYc3FgEgOi3Ra1EmIZNQVyIfWrAFCRa9BS5sUi2g3Pd/s200/askep-otitis-media-akut-oma.jpg
.
1. Telinga Luar
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.
2.Telinga Tengah
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. 

3. Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang.
Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti.
(Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic. Pearce, C Evelyn. 2002)

2.2.2        Fisiologi Pendengaran
Suara ditimbulkan akibat getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara, yang kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara yang bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membrane timpani bergetar. Getaran-getaran tersebut selanjutnya diteruskan menuju inkus dan stapes, melalui maleus yang terkait pada membran itu. Karena gerakan-gerakan yang timbul pada setiap tulang ini sendiri, tulang-tulang itu memperbesar getaran, yang kemudian diaslurkan melalui fenestra vestibular menuju perilimfa. Getaran perilimfa dialihkan melalui membran menuju endolimfa dalam saluran koklea, dan rangsangan mencapai ujung-ujung akhir saraf dalam organ Corti, untuk kemudian diantarkan menuju otak oleh nervus auditorus.
Membran timpani pada tingkap bulat bergerak bebas sebagai katup pengaman dalam pergerakan cairan ini, yang juga menggerakkan duktus koklearis dan membran basilarisnya. Membran basilaris pada basis koklea peka terhadap bunyi berfrekuensi tinggi, sedangkan bunyi berfrekuensi rendah lebih diterima pada bagian lain dari duktus koklearis.
Perasaan-pendengaran ditafsirkan otak sebagai suara yang enak atau tidak enak, ingar-bingar atau musikal. Istilah-istilah ini digunakan dalam artinya yang seluas-luasnya. Gelombang suara yang tak teratur menghasilkan keributan atau keingarbingaran, sementara gelombang suara berirama teratur menghasilkan bunyi musikal enak. Suyara merambat dengan kecepatan 343 meter per detik dalam udara tenang, pada suhu 15,5º C.

2.3 Stadium Otitis Media Akut
Terdapat 5 Stadium otitis media akut yaitu :
ü  Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi. Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media akut  sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi.
ü  Stadium Hiperemis (Pre Supurasi)
Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat
ü  Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil.
Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi.
ü   Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur nyenyak.
Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media kronik.
ü  Stadium Resolusi
Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis media supuratif akut  dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.

2.4   Etiologi Otitis Media Akut
Penyebab otitis media akut dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus  dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering.
Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir. Faktor pencetus terjadinya otitis media supuratif akut (OMA), yaitu :

2.5 Manifestasi klinis Otitis Media Akut
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak – anak umumnya keluhan berupa :
  1. rasa nyeri di telinga dan demam.
  2. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
  3. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penih.
  4. Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit

2.6  Patofisiologi Otitis Media Akut
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).
            Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.1 Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
Setelah itu akan muncul masalah yaitu nyeri telinga,demam,pada orang dewasa biasanya terjadi gangguan pendengaran,telinga terasa perih.Pada anak-anak biasanya timbul masalah susah tidur,terkadang tiba-tiba menjerit dan kejang-kejang.
            Setelah timbul masalah-masalah seperti dia atas,untuk intervensi keperawatannya yaitu segera kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat penghilang nyeri dan demam,Pada anak yang susuh tidur,berikan suasana yang nyaman,dan membuatnya nyaman.






















2.7.           
Infeksi sekunder
Bakteri streptococcus hemophylus
 
Trauma benda
 
Patoflow









 


























2.8 Penatalaksanaan
Serumen dapat diambil denga irigasi, pengisapan, atau instrumentasi. Kecuali bila riwayat perforasi membrana timpani atau terdapat inflamasi telinga luar (otitis eksterna), irigasi lembut kan prosedur yang dapat diterima untuk mengambil serumen.
Teknik ini efektif bila serumen tidak terlalu melekat dalam kanalis auditorius eksteni Pengambilan serumen yang berhasil dengan irigasi ha bisa dicapai bila aliran air dapat mencapai bela serumen yang menyumbat agar dapat mendorongnya lateral dan ke luar dari kanalis. Meskipun irrigator pic air biasanya aman, namun instrumen ini berhubungan den perforasi membrana timpani dan bahkan cedera otologik yang lebih serius. Maka harus digunakan tekanan serdah mungkin yang digunakan untuk mencegah trail mekanik
Bila sebelumnya sudah terdapat perforasi membran timpani di belakang impaksi serumen, air dapat mema ruang telinga tengah. Masuknya air dingin ke da telinga tengah dapat mengakibatkan vertigo akut dengan cara menginduksi arus konveksi termal dalam kanalis semi sirkularis.
Memasukkan air ke dalam rongga teli tengah dapat juga meningkatkan risiko infeksi. Irigasi kanalis juga terbukti mengakibatkan otitis eksterna: na (osteomielitis tulang temporal) pada manula pende diabetes. Bila harus melakukan irigasi aural pada penderita diabetes, harus digunakan larutan steril.
Bila irigasi ti berhasil sempurna atau bila impaksi serumen tidak purna, maka dapat dilakukan pengangkatan secara mekanis, dengan pandangan langsung pada pasien yang koope-ratif oleh tenaga profesional yang terlatih.
Serumen juga dapat dilunakkan dengan meneteskan beberapa tetes gliserin hangat, minyak mineral, atau hidrogen peroksida perbandingan setengah selama 30 menit sebelum pengangkatan. Bahan seruminolitik, seper-ti peroksida dalam gliseril (Debrox) atau Cerumenex juga tersedia; namun, senyawa ini dapat menyebabkan reaksi alergi dalam bentuk dermatitis.
Pemakaian larutan ini dua sampai tiga kali sehari selama beberapa hari biasanya sudah mencukupi untuk memudahkan pengangkatan im-paksi. Bila impaksi serumen tak dapat dilepaskan dengan cara ini, dapat diangkat oleh petugas perawatan kesehatan dengan instrumen khusus seperti kuret serumen dan pengisap aural yang menggunakan mikroskop binokuler untuk pembesaran.
  • PENATALAKSAAN MEDIS
  1. Pengobatan stadium awal di tujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas dengan pemberian antibiotic, dekongestan local atau sistemik dan antipireutik.
  2. Pada anak di berikan ampisilin 4x50-100 mg/ kg BB, amoksisilin 4x40 mg/ kg BB/ hari, atau eritromisin 4x40 mg/ kg BB/ hari.
  3. Berikan obat tetes HCL efedrin 0,5% (anak <12 tahun), HCL efedrin 1% dalam larutan fisiologis (anak >12 tahun dan dewasa).
  4. Lakukan miringotomi.
  5. Berikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotic yang adekuat sampai 3 minggu.
    (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

2.9 Komplikasi
  1. Abses subperiosteal 
  2. Abses otak 
  3. Meningitis
  4. OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik)
    (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

2.10 Pencegahan
Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
  1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
  2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
  3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
  4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
  5.  Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

2.11 Pemeriksaan Penunjang
  1. Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak dan tidak tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.
  2. Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui organisme penyebab.













BAB III
ASKEP OTITIS MEDIA AKUT
3.1   Pengkajian
  1. Riwayat kesehatan
Kaji riwayat kesehatan sekarang, kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat apa yang digunakan, adakah keluhan seperti pilek dan batuk.
Kaji riwayat kesehatan masa lalu. Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan tenan, daerah industri, daerah polusi), apakah riwayat pada anggota keluarga.

  1. Pengkajian fisik
  • Kaji tanda – tanda vital yaitu nadi, RR, suhu, dan tekanan darah
  • Kaji apakah pasien mengalami Sakit telinga/nyeri
  • Kaji apakah pasien mengalami penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
  • Kaji apakah pasien mengalami tinnitus
  • Kaji apakah pasien mengalami perasaan penuh pada telinga
  • Kaji apakah pasien merasakan suara bergema dari suara sendiri
  • Kaji apakah pasien mengalami bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
  • Kaji apakah pasien mengalami  Vertigo, pusing, gatal pada telinga
  • Kaji apakah pasien menggunakan  minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
  • Kaji apakah pasien Penggunana obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)
  • Kaji tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam
  • Kaji kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
  • Kaji apakah pasien mengalami reflek kejut
  • Kaji toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
  • Kaji tipe warna 2 jumlah cairan
  • Kaji cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
  • Kaji tentang  alergi pasien
  • Kaji dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram
  • Kaji Sistem Pencernaan apakah pasien mengalami anoreksia, mual, muntah dan  BB menurun.
  • Kaji Sistem musculoskeletal pasien,apakah pasien mengalami kelemahan
  • Kaji Sistem Pernafasan pasien apakah terjadi  perubahan pada pola dan frekuensi pernafasan.
  • Kaji Sistem Kardiovaskuler, apakah pasien mengalami tekanan darah menurun,  dan nadi cepat

  1. Pengkajian Psikososial
  • Kaji Nyeri otore apakah  berpengaruh pada interaksi
  • Kaji Aktifitas pasien
  • Kaji perasaan takut menghadapi tindakan pembedahan

  1. Pemeriksaan pendengaran
  • Lakukan tes suara bisikan
  • Lakukan tes garputala

3.2  Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
3. Resiko tinggi injury  berhubungan dengan penurunan persepsi sensori
4.Perubahan persepsi sensori, auditorius berhubungan dengan gangguan penghantaran bunyi.
5. Ansietas berhubungan dengan nyeri yang terjadi

3.3  Intervensi dan rasionalisasi
  1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
  • Intervensi :
  1. Beri posisi nyaman
Rasionalisasi : dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri.
  1. Kompres panas di telinga bagian luar
Rasionalisasi : untuk mengurangi nyeri
  1. Kompres dingin
Rasionalisasi : untuk mengurangi tekanan telinga (edema)
  1. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotic
Rasionalisasi : untuk mengurangi dan menghilangkan nyeri
  1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
Tujuan :Tidak terjadi tanda-tanda infeksi
·         Intervensi :
  1. Jaga kebersihan pada daerah liang telinga
Rasionalisasi : untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme.
  1. Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa/terlalu keras (sisi)
Rasionalisasi :  untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustacius ke telinga tengah.
  1. Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasionalisasi : untuk mencegah terjadinya infeksi.
  1. Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori
Tujuan : Tidak terjadi injury atau perlukaan
  • Intervensi :
  1. Pegangi pasien saat beraktivitas
Rasionalisasi :  meminimalkan pasien agar tidak jatuh
  1. Pasang restraint pada sisi tempat tidur
Rasionalisasi :  meminimalkan agar pasien tidak jatuh.
  1. Jaga pasien saat beraktivitas
Rasionalisasi : meminimalkan pasien agar tidak jatuh

  1. Perubahan persepsi sensori, auditorius berhubungan dengan gangguan penghantaran bunyi
Tujuan : Komunkasi terjalin baik
  • Intervensi :
  1. Jaga lingkungan dari kegaduhan
Rasionalisasi : Agar saat berkomunikasi dengan pasien tidak terganggu
  1. Pandang pasien saat berbicara
Rasionalisasi : dapat membantu pasien untuk mengerti maksut pembicaraan perawat
  1. Gunakan komunikasi non verbal
Rasionalisasi : Membantu pasien untuk mengerti maksut pembicaraan perawat
  1. Gunakan alat bantu pendengaran
Rasionalisasi : Komunikasi berjalan lancar
  1. Ansietas berhubungan dengan nyeri yang terjadi.
Tujuan :
Ansietas berkurang
  • Intervensi :
  1. Bina hubungan terapeutik
Rasionalisasi : Pasien merasa nyaman dengan perawat
  1. Alihkan perhatian pasien sehingga ansietas berkurang
Rasionalisasi : Supaya pasien tidak terfokus dengan nyeri yang sedang dialami

  1. Kaji tingkat ansietas pasien
Rasionalisasi : Untuk memonitor tingkat nyeri pasien
  1. Berikan lingkungan yang nyaman
Rasionalisasi : Supaya pasien merasa nyaman dan ansietas tidak bertambah


















BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Otitis Media Akut, adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong  dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh enzim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.

 4.2 Saran
4.2.1 Diharapkan untuk mahsiswa keperawatan setelah membaca askep ini bias membantu untuk           memberikan asuhan keperawatan yang baik untuk pasien dengan otitis media akut ini..
4.2.2 Diharapkan untuk STIKES/lembaga kesehatan setelah membaca asuhan keperawatan ini dapat menciptakan lulusan-lulusan yang berkhualitas dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.2.3 Diharapkan untuk pembaca setelah membaca asuhan keperawatan ini dpat mengetahui apa penyakit otitis media akut dan cara pencegahan serta asuhan keperawatannya.














DAFTAR PUSTAKA


Ø  Anonymous. 2008. www.contoh-askep.blogspot.com , Diakses pada 23 Maret2013 Jam 21.16 WIB
Ø  Anonymous. 2008. www.asuhan-keperawatan-patriani.blogspot.com , Diakses 23 Maret 2013 Jam 21.27 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar